Dikirim oleh : Evi Sjiane Djiun

Lalu Ia berkata kepada mereka, “Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?” (Markus 4:40)

Amerika dilanda krisis ekonomi mahahebat pada tahun 1930-an. Harga saham anjlok. Banyak bank tutup. Pengangguran di mana-mana. Masyarakat panik. Franklin Delano Roosevelt terpilih sebagai presiden pada saat seperti itu. Dengan pembawaan yang tenang ia memimpin. Secara bertahap ia menetapkan langkah-langkah kebijakan yang positif. Salah satu seruannya kepada rakyat yang terkenal dan ampuh menentramkan bangsanya kala itu ialah, “Satu saja yang harus kita takuti, yaitu ketakutan itu sendiri.”
Lewat kisah “Angin ribut diredakan”, Markus mengusung tema ketakutan dengan bagus. Lihatlah kala murid-murid dikuasai oleh ketakutan! Pengalaman sebagai nelayan tak berguna lagi. Bahkan kehadiran Yesus bersama mereka tak berdampak apa-apa. Sebaliknya, mereka panik dan mencari siapa yang dapat dipersalahkan. “Engkau tidak peduli kalau kita binasa?” (ay. 38). Ketakutan membuihkan ombak kepanikan, mengalir masuk melakukan intervensi atas akal sehat, dan menenggelamkan kepercayaan kita akan Tuhan (ay. 40).
Sejenak merasa takut itu wajar. Tetapi, berlarut-larut dikendalikan ketakutan itu berbahaya. Ketakutan yang dibiarkan berkuasa akan melumpuhkan semua kekuatan kita: ketenangan, akal sehat, dan iman kita. Seruan Yesus menenangkan angin ribut dan gelombang laut sebenarnya juga seruan untuk menenangkan gelora ketakutan di hati para murid. Dan juga kita. Tenanglah! Yesus selalu ada menyertai kita. Tidak cukupkah itu melenyapkan ketakutan kita? –PAD
JIKA TUHAN MENJAGA KITA, MENGAPA TAKUT PADA SEGALA HAL YANG MENGANCAM KITA?
Sumber : Renungan Harian