Racun Pikiran

Kali ini penulis ingin mengajak Anda sekalian untuk merenungkan perkataan “Racun”. Apakah “Racun” itu? Apa yang terlintas dalam pikiran Anda saat Anda mendengar perkataan “Racun”? Apakah Anda dengan segera memikirkan racun untuk membunuh tikus? Ataukah Anda lebih memikirkan tentang lingkungan sehat, sehingga Anda berpikir tentang limbah yang beracun? Atau udara yang beracun karena telah terkontaminasi dengan zat-zat kimia – terpolusi? Atau Anda berpikir tentang persahabatan yang diracuni oleh perkataan yang beracun? Dalam hal ini orang-orang tertentu dapat merupakan “Racun” melalui perkataan-perkataan yang diucapkannya yang bersifat membakar, mengadu domba, memecah belah, dan sebagainya. Apakah Anda juga berpikir tentang racun pikiran, yaitu pikiran-pikiran yang dipenuhi dengan pikiran negatif, yang dapat muncul sewaktu-waktu dan meracuni pikiran sehat Anda? Tindakan apakah yang selama ini Anda ambil untuk menetralisasikan pikiran beracun tersebut?

Sudah barang tentu Penulis tidak dapat menuliskan satu persatu semua racun pikiran yang ada, namun demikian Penulis teringat akan nasehat Rasul Paulus yang tertulis dalam Filipi 4:6 (TB), “Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.”  Kuatir adalah racun yang dapat melumpuhkan seseorang untuk mencapai apa yang seharusnya dapat dicapainya. Kuatir mempunyai kemampuan untuk mengarahkan sudut pandang orang kepada apa yang sedang dikuatirkannya. Dengan demikian orang tersebut akan diam dalam penjara kekuatiran selama ia ingini dan hanya dia pula yang dapat melepaskan dirinya dari penjara kekuatiran tersebut. Kuatir itu bagaikan raksasa yang menghalangi orang untuk dapat bergerak dimana kemampuan orang tersebut untuk berbuah dilumpuhkan, sehingga pada akhirnya orang tersebut akan diam ditempat tanpa berbuah. Hal ini sangat meletihkan.

Pikiran negatif, mereka-reka hal-hal negatif yang akan terjadi, masukan negatif dari orang-orang dilingkungan dimana Anda berada, juga merupakan racun pikiran, jika pikiran negatif tersebut merasuki pola berpikir yang sehat, maka perilaku orang tersebut akan berada dibawah kontrol pola pikiran negatif tersebut dan yang bersangkutan akan mengambil tindakan sesuai dengan alam pikiran negatif tersebut.   

II Samuel 10:3 (TB) misalnya memberikan contoh yang baik tentang memasukkan pikiran negatif kedalam alam pikiran orang lain, berkatalah pemuka-pemuka bani Amon itu kepada Hanun, tuan mereka: “Apakah menurut anggapanmu Daud hendak menghormati ayahmu, karena ia telah mengutus kepadamu orang-orang yang menyampaikan pesan turut berdukacita? Bukankah dengan maksud untuk menyelidik kota ini, untuk mengintainya dan menghancurkannya maka Daud mengutus pegawai-pegawainya itu kepadamu?”

Kejadian 4:6-7 (TB) juga merincikan tentang pola pikiran negatif, 6 Firman TUHAN kepada Kain: “Mengapa hatimu panas dan mukamu muram? 7 Apakah mukamu tidak akan berseri, jika engkau berbuat baik? Tetapi jika engkau tidak berbuat baik, dosa sudah mengintip di depan pintu; ia sangat menggoda engkau, tetapi engkau harus berkuasa atasnya. Dari kedua contoh diatas ini, kita mengetahui bahwa masing-masing mengambil tindakan sesuai dengan pola berpikir mereka yang negatif dan pikiran negatif tersebut membuahkan sebuah tragedi. Empat puluh ribu tujuh ratus orang gugur dalam pertempuran (II Samuel 10:18) dan Habel kehilangan nyawanya karena Kain menuruti hawa nafsu pikiran negatifnya (Kejadian 4:8).

Adakah sesuatu racun yang meracuni alam pikiran Anda yang dapat merusak rumah tangga Anda berdua? Adakah prasangka buruk yang merupakan racun yang mematikan yang masuk dalam alam pikiran Anda tentang pasangan hidup Anda? Apakah Anda menterjemahkan setiap perkataan atau perilaku pasangan hidup Anda secara negatif? Apakah Anda secara terus menerus mencurigai pasangan hidup Anda jika ia berbicara dengan teman lawan jenisnya? Bukankah semuanya ini merupakan racun yang dapat merusak dan mematikan kebahagiaan rumah tangga Anda berdua?

Apakah Anda sadar bahwa pasangan hidup Anda memilih Anda diantara sekian banyak wanita / pria, bukankah hal ini berarti ia mencintai Anda? Jika pernikahan Anda telah dikuduskan dihadapan Tuhan dan Anda mempercayai pasangan hidup Anda sepenuhnya, bukankah prilakunya sangat terbuka dihadapan Tuhan? Perlukah Anda mencurigai pasangan hidup Anda dengan pikiran-pikiran negatif yang meracuni pikiran Anda secara terus menerus? Apakah pikiran-pikiran negatif Anda dapat menghalangi pasangan hidup Anda untuk meninggalkan Anda jika itu merupakan pilihannya? Bukankah mengasihi itu merupakan sebuah pilihan?  Kecuali Tuhan membangun rumah tangga Anda, usaha Anda untuk membangunnya akan sia-sia (lihat Mazmur 127:1 ).

Penulis mengajak para pembaca sekalian untuk mengambil tindakan membuang semua racun-racun pikiran yang meracuni pikiran Anda dan menggantikannya dengan semua pikiran yang benar, yang mulia, yang adil, yang suci, yang manis, yang sedap didengar dan semua yang baik yang telah Anda pelajari, terima dan lihat, lakukanlah itu semuanya. Maka Allah sumber damai sejahtera akan menyertai Anda sekalian dan membuat Anda berhasil dalam segala hal yang Anda kerjakan (Bandingkan dengan Filipi 4:8-9). Semoga bermanfaat dan boleh menjadi berkat.

Penulis
Rev.Dr. Harry Lee, MD.,PsyD
Gembala Restoration Christian Church di Los Angeles – California