MANUT (Lukas 1:26-38)
Dikirim oleh : Evi Sjiane Djiun

Kata Maria, “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Lalu malaikat itu meninggalkan dia. (Lukas 1:38)

Dalam dongeng masa kecil, ada banyak cerita tentang anak yang tidak manut (patuh) pada nasihat orangtuanya, lalu memilih untuk berbuat semau-maunya sendiri. Bukan hanya anak kecil, anak yang sudah besar pun dapat bertindak seperti itu. Tak ayal ketika mereka memilih jalan menurut kemauan sendiri, ada konsekuensi yang mesti mereka tanggung.

Dalam Kitab Suci, kita menemukan tokoh yang bersikap sebaliknya. Maria manut saat menyimak kabar dan ketetapan Allah bagi dirinya yang disampaikan melalui malaikat Gabriel. Atas kehendak Allah ia akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, yang hendaknya dinamai Yesus (ay. 31). Anak itu bukan anak laki-laki biasa, tetapi seorang Anak yang disebut “kudus, Anak Allah”, seorang Anak yang akan menjadi raja atas keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan (ay. 33, 34). Sungguh suatu ketetapan dan pernyataan kehendak Allah yang besar atas diri Maria, sekaligus sesuatu yang tidak mudah untuk dijalani. Namun, Maria memilih manut atas kepercayaan dan kehendak Allah baginya itu, yang melibatkannya dalam rencana agung penebusan.

Dari Maria, kita belajar akan kepatuhan terhadap ketetapan dan rencana Allah atas hidup kita. Tidak selalu mudah memang. Namun, dengan menyadari anugerah-Nya yang pasti menguatkan dan memampukan kita, kepatuhan adalah pilihan terbaik. Biarlah ketetapan dan rencana-Nya dinyatakan atas diri kita, mendatangkan kegirangan bagi hati-Nya dan kesejahteraan bagi diri kita dan sesama. –FM /Renungan Harian

MANUT PADA KETETAPAN DAN RENCANA ALLAH MEWUJUDKAN KARYA BESAR-NYA DALAM HIDUP KITA.

Sumber : Renungan Harian