DUA TAWA SARA (Kejadian 18:1-15)
Dikirim oleh : Evi Sjiane Djiun

Adakah sesuatu apa pun yang mustahil untuk TUHAN? (Kejadian 18:14)

Di Alkitab, hanya dua orang yang tercatat pernah tertawa, yakni Abraham dan Sara, istrinya. Yang menarik, tawa pertama mereka  terkesan meremehkan (atau menghina?) Allah yang berjanji memberi mereka anak. Abraham tertawa ketika Allah mengulangi janji itu (17:15-17), padahal saat pertama kali mendengarnya, ia percaya  (15:4-6). Mengapa Abraham kemudian menjadi ragu? Bisa jadi, karena ia dan istrinya semakin tua. Juga, mungkin karena ada jarak waktu yang lama antara pengucapan kedua janji itu.

Setelah itu, ketika Allah kembali berjanji, giliran Sara yang  tertawa tanda tak percaya (ay. 12). Alasannya sama: ia dan suaminya sudah tua, apalagi ia sendiri mandul (11:30 dan 16:1). Tetapi, tidak  seperti saat Abraham tertawa, kali ini Allah tampaknya “tersinggung” sehingga Dia perlu menegaskan bahwa tiada yang mustahil bagi-Nya,  termasuk dalam hal memberikan anak (ay. 14). Sara menyangkal, namun siapa yang bisa bersembunyi dari Dia (ay. 15)? Akhirnya, ketika  Ishak lahir, ia tertawa lagi, sekarang tawa bahagia (21:6).  Hilanglah beban rasa minder karena kemandulan yang selama ini menghantuinya!

Ternyata beriman kepada Allah itu tidak selalu mulus. Abraham, “bapa  orang beriman”, pun mengalami pasang surut. “Cedera” imannya, ketika ia menuruti saran Sara untuk mengawini Hagar, menimbulkan masalah  berlarut dalam keluarganya. Jadi, bagaimana kita menyikapi janji-Nya? Tiada jalan lain kecuali menunggu waktu penggenapan  terbaik dari Allah. –HS/Renungan Harian

TUHAN PASTI MENGGENAPI JANJI-NYA, KIRANYA KITA BELAJAR MENANTIKAN WAKTU-NYA.

Sumber : Renungan Harian