BERANI MENGAKUI KELEMAHAN (Roma 7:13-25)
Dikirim oleh : Evi Sjiane Djiun

Aku, manusia celaka! Siapa yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini? Syukur kepada Allah melalui Yesus Kristus, Tuhan kita! (Roma 7:24-25)

Dalam pidato pelepasan wisuda di Harvard, J.K. Rowling, ibu rumah tangga dan penulis laris seri Harry Potter, berkata, “Pertama, saya ingin mengucapkan terima kasih. Bukan hanya karena Harvard sudah memberi saya kehormatan luar biasa, tetapi terima kasih juga untuk minggu-minggu yang membuat saya ketakutan dan mual selama mempersiapkan pidato ini. Hal itu membuat berat badan saya turun. Sebuah situasi menang-menang, saya kira!” Hadirin yang tadinya serius jadi cair dan tertawa. Jarang sekali orang dengan jujur menyatakan kekurangannya dalam forum bergengsi itu. Sisanya, sepanjang pidato itu hadirin terpukau oleh kata-kata indahnya.

Dalam pergumulan pribadinya, Paulus dengan jujur mengakui dirinya manusia yang cenderung berbuat dosa. Sosok sekelas Paulus berani mengakui dirinya bergumul antara akal budi dan anggota tubuhnya. Namun, akhirnya ia menemukan jawaban bahwa Tuhan sanggup melepaskan kita dari kelemahan kita. Paulus menyimpulkan dengan tegas bahwa kuasa Tuhan sajalah yang memampukan kita.

Diakui atau tidak, setiap orang memiliki kelemahan tertentu. Semakin besar jiwanya, semakin berani ia mengakui kelemahannya. Apa daya, kita justru memiliki tradisi menutupi kelemahan. Pemimpin yang bersalah, misalnya, akan berusaha mati-matian menyembunyikannya. Begitu juga bawahan yang melakukan kekeliruan. Kelemahan dianggap tabu. Padahal, memiliki kelemahan itu normal. Pertanyaannya: Bersediakah kita berserah kepada Tuhan, agar anugerah-Nya bekerja dalam kelemahan kita? –DHW /Renungan Harian

ORANG YANG SUNGGUH-SUNGGUH MENYADARI KELEMAHANNYA AKAN BERSUKACITA MENYAMBUT ANUGERAH TUHAN YANG MENGUBAHKAN.

Sumber : Renungan Harian