MENEGUR DALAM KASIH (2 Korintus 2:5-11)
Dikirim oleh : Evi Sjiane Djiun

Sehingga kamu sebaliknya harus mengampuni dan menghibur dia, supaya ia jangan binasa karena kesedihan yang terlampau berat. (2 Korintus 2:7)

Di media sosial sempat beredar cerita tentang seorang anak yang bertugas menolong sang pastur dalam ibadah ekaristi (perjamuan kudus). Secara tidak sengaja si anak menumpahkan minuman anggur yang dibawanya. Dalam emosinya, sang pastur memukul si anak dan mengusirnya keluar dari gereja. Anak itu kemudian meninggalkan kekristenan dan menjadi seorang ateis (tidak percaya akan keberadaan Tuhan). Anak itu tidak lain adalah Josip Broz Tito, yang setelah besar menjadi pendiri dan pemimpin besar negara komunis, Yugoslavia.

Alkitab mengajarkan bahwa seseorang yang bersalah memang harus ditegur dan kalau perlu dihukum, supaya orang tersebut menyadari kesalahannya dan tidak mengulanginya lagi. Tapi, Alkitab juga mengingatkan bahwa teguran ini harus didasari oleh kasih dan tidak dilakukan secara berlebihan, baik dalam hal keras maupun lamanya hukuman. Selanjutnya, orang tersebut harus segera diampuni dan dihibur. Dalam bahasa aslinya, kata “dihibur” mengandung makna memberikan semangat, menguatkan, dan menasihati. Dengan kata lain, hendaklah orang itu tidak sampai merasa dibuang dan tidak lagi dikasihi, supaya orang itu dapat segera bangkit dan berubah.

Melanjutkan kisah di atas, di tempat lain terjadi peristiwa yang sama. Tapi si pastur memeluk si anak yang ketakutan, mengampuni, dan menghiburnya. Anak itu konon adalah Fulton Sheen, seorang uskup di Amerika Serikat. Suatu teladan prinsip menegur dalam kasih yang indah dan praktis. Teladan yang mana yang kita ikuti dalam hidup kita? –AS /Renungan Harian

TEGURLAH ORANG YANG BERSALAH SUPAYA IA SADAR AKAN KESALAHANNYA, AMPUNI DAN HIBURKANLAH IA DALAM KASIH SUPAYA IA BISA BERUBAH.

Sumber : Renungan Harian