DOA ITU MENGUBAHKAN (Lukas 22:39-46)
Dikirim oleh : Evi Sjiane Djiun

Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau berkenan, ambillah cawan ini dari hadapan-Ku; tetapi jangan kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang jadi. (Lukas 22:42)

Ketika bergumul dengan kanker tulang, pada saat-saat terakhir hidupnya teman saya menulis, “Saya percaya doa tidak selalu mampu mengubah keadaan, tapi mampu mengubah cara pandang saya. Saya percaya doa tidak mampu mengembalikan mereka yang saya cintai, tapi mampu memberikan kebahagian bagi mereka. Saya percaya doa tidak selalu mampu memperbaiki hati yang hancur, tapi mampu mengubahnya menjadi sumber kekuatan dan penghiburan. Dan, saya percaya doa tidak selalu mampu mewujudkan keinginan saya, tapi mampu mengubahnya menjadi keinginan-Nya.”

Yesus sebagai manusia mengalami pergumulan seperti kita. Ketakutan hebat menyelimuti-Nya pada akhir hidup-Nya hingga Dia makin sungguh-sungguh berdoa (ay. 44). Yesus menyadari beratnya penderitaan yang harus Dia pikul. Dalam doa-Nya, Yesus pun berharap agar Bapa-Nya, jika berkenan, mengambil cawan derita itu dari hidup-Nya. Sekalipun doa itu tidak dapat mengubah jalan hidup-Nya, namun Yesus percaya bahwa Bapa mampu mampu mengubah peristiwa itu menjadi sumber kekuatan dan penghiburan. Dia pun memilih taat, mengikuti kehendak Bapa-Nya (ay. 42).

Tuhan akan selalu mendengarkan doa kita, namun Dia tidak akan selalu mengabulkan permintaan kita. Namun, sekalipun kita tidak menerima apa yang kita minta, doa itu dapat mengubah sikap hati kita. Apakah keinginan hati kita lebih kuat sehingga kita terus “memaksa Tuhan” untuk memenuhi keinginan kita atau, sebaliknya, kita memilih untuk taat dan mengikuti keinginan hati-Nya? –SYS /Renungan Harian

DOA BUKANLAH SARANA UNTUK MEWUJUDKAN KEINGINAN HATI KITA, MELAINKAN UNTUK MENGAMINI KEINGINAN HATI TUHAN.

Sumber : Renungan Harian