MENIRU ORANGTUA (Amsal 1:7-19)
Dikirim oleh : Evi Sjiane Djiun

Hai anakku, dengarkanlah didikan ayahmu, dan jangan menyia-nyiakan ajaran ibumu. (Amsal 1:8)

Robert Fulghum pernah berkata, “Jangan khawatir anak-anak tidak mendengarkan Anda. Namun, khawatirlah karena anak-anak itu memperhatikan Anda setiap saat.” Orangtua harus sangat hati-hati dalam menjalani perannya sehari-hari. Ada anak yang hampir setiap saat memperhatikan, menyerap tingkah langkah orangtua, lalu menirunya.

Tuhan memercayakan tanggung jawab kepada ayah dan ibu untuk menjadi sumber didikan dan ajaran bagi anak-anak mereka (ay. 8). Ketika dilahirkan, anak belum memiliki kesanggupan memilih yang baik, keterampilan mengambil keputusan, kemampuan mengekang diri, dan hal lain yang diperlukan untuk hidup. Orangtua perlu menanamkannya pada anak hingga menjadi seperti “karangan bunga” dan kalung di “leher”—yang selalu dibawa ke mana-mana dan mengingatkan anak ketika harus menghadapi tantangan kejahatan.

Nyatanya, anak belajar paling banyak dari melihat gaya hidup orangtuanya. Dari situ, anak bisa berbicara, berjalan, bahkan menyisir—seperti orangtua yang selalu dilihatnya. Namun, anak bisa berpikir, menjalani hidup, berhubungan dengan Tuhan, seperti orangtuanya juga. Jika orangtua tak mau anak menjadi kikir, ia mesti bermurah hati. Jika tak mau anak berkata dan berpikir negatif, ia harus memandang kehidupan secara positif. Jika tak mau anak berjalan menurut akalnya sendiri, ia harus hidup mengandalkan Tuhan setiap waktu. Lebih luas, ini bukan hanya tugas orangtua. Guru sekolah, guru Sekolah Minggu, pengasuh, kerabat, juga bisa berperan. Ambillah bagian! –AW /Renungan Harian

ANAK-ANAK ADALAH PRIBADI YANG PALING MENGAMATI KITA DAN YANG PALING CEPAT MENIRUKAN GAYA HIDUP KITA.

Sumber : Renungan Harian