Bagaimana Orang Percaya Menghadapi Tantangan Iman
Dikirim oleh : Evi Sjiane Djiun

Billy Graham, seorang penginjil yang dipakai Tuhan pada abad ke-20, pernah berkata: “Kalau kita mau menerima Kristus, tidak ada harga yang harus kita bayar karena salib Kristus sudah membayar dosa kita.” Itu sebabnya agama berbeda dengan iman Kristen, karena agama adalah usaha manusia yang berdosa mencari Allah yang kudus. Tetapi iman Kristen adalah, Allah yang kudus mencari manusia yang berdosa. Kita diselamatkan bukan karena perbuatan baik kita, tetapi karena Kristus yang mengganti kita. Kita yang seharusnya binasa, disalib, dihukum, dan masuk neraka tetapi Tuhan Yesus yang mengganti itu semua.

Ketika kita menjadi pengikut Kristus, ada harga yang harus kita bayar. Bahkan kalau kita menjadi orang percaya yang sungguh-sungguh, kita harus memberikan hidup kita bagi Tuhan dan akan muncul tantangan iman yang harus kita hadapi.

Gereja mula-mula juga mengalami tantangan iman, yaitu diancam. Dalam Kisah Para Rasul 4:17 disebutkan, “Tetapi supaya hal itu jangan makin luas tersiar di antara orang banyak, baiklah kita mengancam dan melarang mereka, supaya mereka jangan berbicara lagi dengan siapa pun dalam nama itu.” Dalam hal ini tantangan iman itu ternyata datang dari kelompok orang yang beragama. Oknum yang mengancam mereka ternyata bukan kelompok teroris, kelompok komunis, penyembah Baal; melainkan Mahkamah Agama orang Yahudi yang percaya pada Taurat namun menentang nama Yesus.

Dalam sejarah gereja, rupanya tantangan iman para reformator datang dari gereja sendiri, yaitu dibunuh atau mati syahid. Hal yang sama terjadi pada Martin Luther, sang tokoh reformator gereja, yang harus mengungsi beberapa kali karena diancam oleh gereja yang berkuasa.

Bagaimana respon gereja mula-mula ketika menghadapi tantangan iman?

1 Ada persekutuan dengan sesama yang erat

Dalam kisah 4:23 dikatakan, “Sesudah dilepaskan pergilah Petrus dan Yohanes kepada teman-teman mereka, lalu mereka menceriterakan segala sesuatu yang dikatakan imam-imam kepala dan tua-tua kepada mereka.”

Meskipun Petrus dan Yohanes adalah rasul, namun mereka memahami bahwa saat menghadapi tantangan mereka harus membangun persekutuan. Rick Warren dalam bukunya The Purpose Driven Life mengatakan, gereja harus mempunyai lima pilar. Pertama, pilar penginjilan. Kedua, pilar penyembahan. Ketiga, pilar persekutuan. Keempat, pilar pemuridan. Kelima, pilar pelayanan. Seringkali gereja memiliki penyembahan yang luar biasa, pelatihan yang luar biasa bagus, akan tetapi semakin individualistis, terutama gereja-gereja modern. Itulah sebabnya persekutuan mulai lemah, padahal dalam Kisah Para Rasul 1:14 dikatakan bahwa “mereka semua bertekun dengan sehati.” (Lihat juga kisah2:46 dan Kisah Para Rasul 4:32).

2 Membangun persekutuan dengan Tuhan melalui doa

Dalam Kisah Para Rasul 4:24-26 dikatakan, “Ketika teman-teman mereka mendengar hal itu, berserulah mereka bersama-sama kepada Allah, katanya: “Ya Tuhan, Engkaulah yang menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya. Dan oleh Roh Kudus dengan perantaraan hamba-Mu Daud, bapa kami, Engkau telah berfirman: Mengapa rusuh bangsa-bangsa, mengapa suku-suku bangsa mereka-reka perkara yang sia-sia? Raja-raja dunia bersiap-siap dan para pembesar berkumpul untuk melawan Tuhan dan Yang Diurapi-Nya.”

Kita berdoa karena kita percaya akan firman, begitu juga sebaliknya, kalau kita tidak berdoa berarti kita tidak percaya akan firman Tuhan. Jika saat ini kita sedang menghadapi tantangan dan pergumulan, jangan biarkan situasi yang mempengaruhi iman kita. Sebaliknya, biarlah kita membaca firman-Nya yang adalah ya dan amin.

Jangan pernah mengandalkan diri sendiri; kita harus mengandalkan Tuhan. Kalau kita berbisnis, jangan pernah mengandalkan orang-orang besar. Kita seharusnya belajar untuk berdoa; jika memang itu berkat Tuhan, penghalang apapun bisa Tuhan ubah menjadi jalan keluar.

Saat Paulus menghadapi tantangan, dia pun berdoa. Mengapa orang percaya selalu berdoa? Karena ada korelasi antara berdoa dan kepenuhan Roh Kudus.

Dalam Kisah Para Rasul 4:31 dikatakan, “Dan ketika mereka sedang berdoa, goyanglah tempat mereka berkumpul itu dan mereka semua penuh dengan Roh Kudus, lalu mereka memberitakan firman Allah dengan berani.” Setiap kali orang percaya berdoa, ada kuasa Roh Kudus yang bekerja dengan luar biasa. Kalau kita punya  tantangan iman, sebaiknya kita mengambil waktu khusus selama dua atau tiga hari. Belajarlah berdiam dalam kaki Tuhan dan memohon supaya kuasa-Nya turun, karena kita percaya saat Roh Kudus bekerja, hidup kita akan berbeda. Kita menjadi pemenang, bahkan lebih dari pemenang.

Sumber: Pdt. Amos Hosea