Dia Pegang Tanganku
Dikirim oleh : Evi Sjiane Djiun

Jika aku terbang dengan sayap fajar, dan membuat kediaman di ujung laut, juga di sana tangan-Mu kan menuntun aku, dan tangan kanan-Mu memegang aku. (Mazmur 139:9-10)

Solomon Rosenberg dengan istri, dua anak laki-laki, dan orangtuanya, ditangkap oleh tentara Nazi dan dimasukkan ke kamp  konsentrasi. Di sana hanya ada satu aturan “sederhana”: “Selama kamu masih bisa bekerja, kamu boleh hidup. Namun bila kamu menjadi  terlalu lemah hingga tak bisa bekerja, kamu akan dieksekusi.” Tak lama, Rosenberg menyaksikan ayah-ibunya dihukum mati. Anggota  keluarga terlemah setelah mereka adalah David, si bungsu, dan ini membuat Rosenberg sangat sedih. Setiap sore, begitu mereka berkumpul  kembali di barak, mereka berpelukan dan bersyukur.

Suatu sore Rosenberg pulang dan tidak menemukan keluarganya. Setelah  mencari-cari, ia menemukan Joshua-putra sulungnya-sedang menangis di sudut. “Papa, hari ini terjadi juga. David tidak mampu bekerja, dan  tentara menangkapnya.” Rosenberg bertanya, “Tapi, di mana ibumu?” Joshua menjawab sedih, “Pa, saat tentara datang, David menangis  ketakutan. Lalu Mama berkata, ‘Tidak ada yang perlu ditakuti, David.’ Lalu Mama menggandeng tangannya dan menemani David pergi.”

Dalam Mazmur 139, Daud merayakan kemahatahuan dan kemahaadaan Allah  sebagai penghiburan besar bagi umat-Nya. Perjalanan hidup kita mungkin tak “seseram” kamp konsentrasi. Namun, tetap saja ada masa  yang begitu gelap dan berat. Terlalu menakutkan bila harus kita hadapi sendiri. Kadang keluarga dan kerabat tak selalu ada, tetapi  Dia Mahaada. Bahkan dalam tantangan dan kesulitan terbesar pun, Bapa surgawi “akan menuntun aku, dan tangan kanan-Mu memegang aku” (ay.10)! –Agustina Wijayani /Renungan Harian

BILA HIDUP MENJADI BEGITU MENAKUTKAN, PEGANGLAH TANGAN SANG MAHAADA DAN JANGAN LEPASKAN.

Sumber : Renungan Harian