SEKADAR BERTAHAN? (Yeremia 25:1-7)
Dikrim oleh : Evi Sjiane Djiun

… sudah dua puluh tiga tahun lamanya, firman TUHAN datang kepadaku dan terus-menerus aku mengucapkannya kepadamu, tetapi kamu tidak mau mendengarkannya. (Yeremia 25:3)

Ketika bernostalgia di depot soto langganan semasa kuliah, ternyata yang meracik soto masih bapak yang melayani di sana dua puluh tahun lalu. “Kok betah, Pak, kerja di sini?” tanya saya dengan kagum. Jawabannya terdengar sedih, “Yah, bagaimana lagi, Mas, saya tidak punya ketrampilan lain.” Ah, rasa kagum saya berganti menjadi kasihan. Rupanya bapak ini sekadar bertahan dalam pekerjaan yang tidak disukainya.

Tidak demikian dengan nabi Yeremia. Ia mengalami kesulitan selama dua puluh tiga tahun dalam pelayanan, namun ia tidak bersikap sekadar bertahan. Kata “terus-menerus” (ay. 3) menunjukkan kegigihannya. Kata Ibraninya mengandung arti bangun pagi. Istilah ini biasanya digunakan untuk menggambarkan orang yang akan berjalan jauh dan pagi-pagi benar menata perbekalan ke punggung unta atau memanggulnya sendiri. Pembaca Yahudi waktu itu akan mudah mengerti arti konotatif kata ini dan memahami rahasia kekuatan sang nabi: tiap pagi ia bangun untuk menjumpai Allah dan mendengarkan FirmanNya, sesudah itu barulah ia melakukan pelayanan, termasuk menghadapi penolakan orang banyak (ay. 4). Hasilnya? Lima puluh empat tahun masa pelayanan yang sukar ia jalani dengan tekun!

Sebagian orang kehilangan gairah hidup dan didera kebosanan baik karena kenyamanan maupun karena penderitaan. Mereka tetap beraktivitas, tapi sebenarnya sekadar bertahan hidup. Mengatasinya? Gunakan resep sang nabi. Nikmati persekutuan dengan Allah yang akan menyegarkan jiwa dan membangkitkan ketekunan kita. –ICW

TANPA TUHAN, KITA KEHILANGAN ARAH HIDUP, DAN SEKADAR BERTAHAN. DENGAN TUHAN, PENYERTAAN-NYA MEMULIHKAN DAN MENYEGARKAN

Sumber : Renungan Harian