NASI JADI BUBUR (1 Timotius 1:12-17)
Dikirim oleh : Evi Sjiane Djiun

“Kristus Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa”, dan di antara mereka akulah yang paling berdosa. (1 Timotius 1:15)

“Nasi sudah jadi bubur!” Ungkapan ini mengacu pada peristiwa buruk yang telanjur terjadi dan dianggap tak mungkin diperbaiki lagi.  Pelaku atau korban hanya bisa menyesalinya. Tapi, tunggu dulu! Benarkah hal itu memang sudah tak bisa diapa-apakan lagi? Bagaimana  jika bubur nasi itu kita tambah dengan kuah kaldu, suwiran daging ayam, irisan telur dadar, taburan bawang goreng, kerupuk? Jadilah  bubur ayam nan nikmat!

Nah, begitulah kita di mata Allah. Bagi orang lain, kita mungkin  dipandang “sampah”, “barang rusak”, atau “rongsokan” tak berguna.  Tidak bagi Dia! Lihat bagaimana Allah menyikapi orang-orang yang semula melawan Dia dan mengubah mereka menjadi senjata kebenaran-Nya yang cakap. Salah satu contohnya tidak lain Rasul Paulus sendiri.  Dalam ayat 13, ia menyatakan dirinya dulu seorang “penghujat”, “penganiaya”, dan “ganas”. Bahkan di antara mereka yang  diselamatkanNya, ia menyebut dirinya sebagai “yang paling berdosa” (ay. l6). Tetapi, siapa ia sekarang? Salah satu hamba-Nya yang  terbesar, yang dipakai Tuhan menyatakan firman-Nya dalam bentuk 12 surat dalam Perjanjian Baru!

Jadi, tak perlulah kita menyesali masa lalu. Dia bisa mengubah kita  menjadi ciptaan baru (2 Kor. 5:17). Untuk itu, Dia meminta kita  berserah padaNya, tinggal di dalam Dia, dan rela Dia bentuk sesuai dengan kehendakNya. Setelah itu, lihatlah apa yang terjadi! “Buluh  yang patah terkulai tidak akan diputuskannya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkannya” (Yes. 42:3). –HS

DI TANGAN ALLAH, TIDAK ADA KEGAGALAN YANG TIDAK DAPAT DIPERBAIKI.

Sumber : Renungan Harian