TETAP BERSUKACITA (Filipi 4:2-9)
Dikirim oleh : Evi Sjiane Djiun

Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah! (Filipi 4:4)

Ibu setengah baya itu amat ramah. Dengan wajah sumringah ia menyambut kedatangan saya di gereja kecil itu. Dan bukan hanya saya, setiap orang yang datang juga disambutnya dengan senyum hangat. Nantinya saya tahu, suami ibu itu sudah meninggal. Untuk menghidupi dua anaknya yang masih sekolah, ia bekerja sebagai petugas kebersihan sebuah wisma. “Tuhan telah memberikan napas kehidupan dan memelihara kami hingga saat ini dengan cara yang ajaib. Jadi, saya tidak punya alasan untuk bersusah hati karena Tuhan senantiasa memberi kami kekuatan. Selalu ada alasan untuk bersyukur kepada-Nya, ” kata ibu itu. Kondisi hidup yang sulit itu nyatanya tak menghapuskan sukacitanya.

Paulus secara tegas mendorong jemaat di Filipi untuk senantiasa bersukacita, dan ia bahkan mengulangi dorongannya itu. Jika Paulus menulis surat ini dalam kondisi yang baik-baik saja, kita tidak akan heran. Istimewanya, Paulus menulisnya ketika berada di penjara karena memberitakan Injil. Ia menunjukkan bahwa penjara sekalipun tidak dapat merampas sukacitanya di dalam Tuhan. Keadaan buruk tidak dapat merusak kesaksiannya akan kebaikan Tuhan.

Kita mungkin menanggung beban hidup yang amat berat. Namun, seburuk apa pun kondisi hidup ini, kita memiliki sumber pengharapan yang membangkitkan sukacita. Keadaan bisa jadi tidak bertambah mudah, namun sepanjang mata kita berharap kepada kebaikan Tuhan, hati kita akan diliputi sukacita dan dikuatkan untuk menghadapi situasi yang sulit tersebut. –SS

SUKACITA YANG SEJATI TIDAK AKAN PADAM SEKALIPUN KEADAAN SEKELILING BEGITU KELAM.

Sumber : Renungan Harian