DIPUAS-PUASKAN (1 Raja-raja 16:29-33)
Dikirim oleh : Evi Sjiane Djiun

Seakan-akan belum cukup ia hidup dalam dosa-dosa Yerobeam bin Nebat, maka ia mengambil pula Izebel, anak Etbaal, raja orang Sidon, menjadi istrinya, sehingga ia beribadah kepada Baal dan sujud menyembah kepadanya. (1 Raja-raja 16:31)

Seorang sahabat pernah berbagi rasa demikian, “Kadang aku merasa heran melihat orang yang berbuat jahat, tetapi seperti tak ada rasa takut atau jera, makin hari makin jahat.” Ia pun melanjutkan, “Seperti tak ada puasnya.” Setelah bertukar pendapat, kami sepakat, perbuatan jahat bisa membuat seseorang melakukannya terus-menerus, kian hari kian meningkat ukurannya. Dipuas-puaskan entah sampai kapan.

Daud menjadi standar ideal kebaikan seorang raja di Israel. Yerobeam bin Nebat adalah kebalikannya. Para raja yang jahat disejajarkan dengannya. Menjadi setara dengannya berarti rapor merah bagi seorang raja. Tetapi, Raja Ahab dinilai “belum puas” menjadi seperti Yerobeam. Dosanya masih berlanjut, melampaui standar kebobrokan Yerobeam. Dan kitab 1 Raja-raja merekam dengan rinci kekejian yang ia lakukan sejak perkawinannya dengan Izebel. Satu demi satu dosanya bertambah. Tak jera ia terus-menerus melanjutkan kejahatan. Ujungnya, Alkitab menyebutnya sebagai orang yang “memperbudak diri dengan melakukan apa yang jahat di mata TUHAN” (1 Raj 21:20, 25).

Dosa memang bersifat membujuk sedikit demi sedikit. Menggoda, merayu, menyeret, memikat, dan akhirnya menjerat (Yak 1:1315). Jerat perbudakan. Awalnya memikat, ujungnya mengikat. Akhirnya, orang tak berdaya menolak sebab sudah menjadi budak. Budak seks, minuman keras, narkoba, uang, ambisi dan sebagainya. Kristus telah melepaskan kita dari perbudakan dosa. Janganlah kita malah memperbudakkan diri lagi kepadanya. –PAD

SEJAK SEMULA DOSA HARUS DISIKAPI DENGAN TEGAS, SEBELUM KITA DIBUAT MENJADI BUDAK YANG DITINDAS.

Sumber : Renungan Harian