KEPEKAAN AKAN DOSA (Efesus 4:17-32)
Dikirim oleh : Evi Sjiane Djiun

Perasaan merekatelah tumpul, sehingga mereka menyerahkan diri kepada hawa nafsu dan dengan serakah mengerjakan segala macam perbuatan cemar. (Efesus 4:19)

Gabby Gingras dilahirkan dengan kelainan syaraf yang langka, yaitu Congenital Insensitivity to Pain with Anhidrosis (CIPA). Semua saraf pendeteksi rasa sakit di tubuhnya tidak berfungsi sama sekali. Ia pernah menggigit benda keras sampai giginya copot tanpa meringis. Bahkan, sewaktu masih bayi, ia mencolok mata kiri dengan jarinya sampai buta, juga tanpa merasa kesakitan. Ketidakmampuannya mengalami rasa sakit jelas-jelas mengancam keselamatan nyawanya.

Paulus menggambarkan kondisi orang yang tidak mengenal Allah. Perasaan mereka tumpul, tidak memahami betapa seriusnya dosa dan betapa menyakitkannya konsekuensi dosa. Tanpa kepekaan terhadap dosa, seseorang akan senang melakukan dosa (ay. 19). Langkah demi langkah ia terus menjauhkan diri dari Allah. Jika tidak berbalik, perjalanannya berujung pada maut. Paulus memperingatkan orang percaya, yang telah dipanggil ke dalam kehidupan yang baru, agar tidak menempuh jalan kegelapan ini.

Hari ini adalah permulaan masa persiapan Paskah. Selama masa ini, umat Tuhan diajak mempertajam kepekaan akan dosa. Bagaimana caranya? Pertama, akrabilah firman (ay. 21). Pemazmur berkata bahwa kita menjaga kekudusan dengan firman (Mazmur 119:9). Kedua, tanggalkan dan tinggalkan kebiasaan dosa (ay. 22). Melakukan dosa akan menumpulkan nurani kita. Ketiga, kepekaan terhadap dosa dimulai dari pikiran yang membenci dosa (ay. 23). Mintalah kepada Tuhan untuk menanamkan kebencian yang kudus atas dosa dalam pikiran kita. –JS

KEPEKAAN DAN KEBENCIAN AKAN DOSA MERUPAKAN CIRI KEROHANIAN YANG SEHAT.

Sumber : Renungan Harian