KAPANKAH PAGI? (Mazmur 130:1-8)
Dikirim oleh : Evi Sjiane Djiun

Jiwaku mengharapkan Tuhan lebih dari pada pengawal mengharapkan pagi, lebih dari pada pengawal mengharapkan pagi. (Mazmur 130:6)

Proses persalinan anak pertama kami cukup sulit. Dokter terpaksamenggunakan alat bantu yang menyebabkan terjadinya cedera di  otaknya. Ia mesti menjalani perawatan intensif sebelum diperbolehkan pulang. Syukurlah, kondisinya hari demi hari kian membaik. Namun,  bagaimana dengan cedera otaknya? Benarkah tidak ada dampak yang serius? Kami berdoa agar semuanya baik-baik saja. Dan, karena beberapa pertimbangan, kami baru memeriksakan kondisi otaknya ketika  anak kami berusia 10 tahun. Menurut dokter saraf, tidak ada  tanda-tanda pernah terjadi cedera otak. Hati kami sungguh bersyukur mendengarnya.

Namun, pengalaman menanti selama hampir 10 tahun, dengan berbagai  kegalauan yang berkecamuk, mengingatkan saya akan bagaimana seorang  pengawal mengharapkan datangnya pagi. Penuh ketegangan dan harus selalu waspada. Kadang jiwa ini lelah. Seolah-olah saya seorang diri  melewati “malam persoalan hidup”. Tetapi, di sinilah saya belajar untuk selalu mengharapkan Tuhan.

Tumpukan kertas kerja yang menggunung, rekan kerja yang menusuk dari  belakang, pasangan hidup yang tidak menjalankan janji pernikahan,  anak yang kurang taat, pelajaran di sekolah yang banyak dan sulit, diputus pacar-segudang persoalan hidup dapat meletihkan jiwa. Namun,  di manakah sauh pengharapan kita labuhkan? Tuhanlah Penolong kita.  Dia senantiasa menyertai kita dalam setiap langkah kehidupan, dan tidak meninggalkan kita ketika masalah datang melanda.  Penyertaan-Nya, itulah sumber kelegaan jiwa kita. –MW

BAIK PADA WAKTU MALAM GELAP MAUPUN SAAT FAJAR MEREKAH, TUHAN ADA, MENYERTAI KITA, DAN TIDAK BERDIAM DIRI.

Sumber : Renungan Harian