KETIKA PERSEDIAAN MENIPIS (1 Raja-raja 17:13-16)
Dikirim oleh : Evi Sjiane Djiun

Tetapi Elia berkata kepadanya: “Janganlah takut, pulanglah, buatlah seperti yang kaukatakan…” (1 Raja-raja 17:13a)

Anak kami memiliki suatu kebiasaan yang menggelitik. Setiap kali ia makan atau minum sesuatu yang ia senangi, ia enggan membagikannya kepada orang lain. Kalaupun mau membagikannya, ia akan berpesan, “Jangan dihabiskan ya.” Kebiasaan ini tampaknya bukan hanya menghinggapi anak kecil. Orang dewasa pun kerap mempertahankan milik kepunyaannya, terutama hal-hal yang berkaitan dengan kesenangan atau kehidupannya.

Kisah Elia dan janda di Sarfat menawarkan perspektif yang baru. Dalam keadaan yang begitu susah, janda ini didatangi seseorang yang tidak ia kenal, yang meminta bagian dari tepungnya yang masih tersisa, yang akan dibuatnya menjadi roti bagi dirinya dan anaknya. Bukan sebuah permintaan yang mudah untuk dituruti. Elia menyertai permintaannya itu dengan menyampaikan janji tentang pemeliharaan Allah pada tahun-tahun kekeringan tersebut. Nah, di sini bukan hanya janda itu yang memberikan milik terakhirnya; Elia juga memberikan miliknya: iman dan keyakinannya akan pemeliharaan Tuhan. Ketika mukjizat terjadi, janda Sarfat dan anaknya bersama dengan Elia dipelihara oleh Tuhan dengan cara yang ajaib.

Tidak jarang kita merasa mampu dengan apa yang kita miliki. Kekayaan, pekerjaan, saudara, dan sebagainya. Tanpa kita sadari, iman dan keyakinan kita bergantung pada hal-hal tersebut. Pada saat hal-hal itu “menipis”, iman kita diuji. Apakah kita akan mempertahankannya? Atau, kita akan melepaskannya, dan berganti mengandalkan sesuatu yang lebih pasti: pemeliharaan Allah? –YKP

APAKAH IMAN KITA BERGANTUNG PADA HAL-HAL YANG DAPAT BERUBAH ATAU PADA SESEORANG YANG PASTI MEMENUHI JANJI-NYA?

Sumber : Renungan Harian