SUDAHLAH (Lukas 22:47-53)
Dikirim oleh : Evi Sjiane Djiun

Tetapi Yesus berkata, “Sudahlah itu.” (Lukas 22:51a)

Saat Ibu saya didiagnosis menderita kanker kandungan, ia protes kepada Tuhan. Kenapa penderitaan itu harus ia alami? Ia masih ingin  hidup untuk mengantarkan adik-adik saya yang masih kecil bertumbuh  menjadi mandiri dan dewasa. Tetapi, seiring dengan berjalannya  waktu, ia dapat menerima keadaan itu sebagai cara Tuhan dalam  mendewasakan keluarganya.

Dalam keheningan Getsemani, Yesus bertelut di hadapan Bapa dalam  kesedihan dan kegentaran. Namun, Dia berserah penuh pada penggenapan rencana Allah untuk menyelamatkan manusia. Dia tidak takut lagi.  Ketika krisis semakin memuncak, datanglah serombongan orang yang dipimpin oleh Yudas. Yudas mencium Yesus sebagai tanda bahwa Dialah  yang harus ditangkap. Ciuman, yang dalam tradisi mereka merupakan tanda persaudaraan, dijadikan Yudas sebagai tanda pengkhianatan.  Melihat situasi yang terjadi, para murid bermaksud melakukan perlawanan. Yesus menenangkan murid-murid-Nya, dan berkata,  “Sudahlah itu.” Yesus tahu bahwa itulah saat bagi mereka dan bagi kuasa kegelapan untuk menunjukkan perlawanan pada Allah. Itu jugalah  saat bagi Allah untuk menggenapi rencana-Nya bagi umat manusia.

Pemahaman yang jelas akan kehendak Allah dan kemauan untuk taat pada  kehendak itu membuat Yesus memiliki hikmat untuk bertindak. Dia tahu kapan harus menghindar dan kapan harus menyerahkan diri. Kiranya  pemahaman akan kehendak Allah pun menolong kita untuk mengerti bagaimana kita harus bersikap dan bertindak dalam situasi genting  yang harus kita hadapi. –EN

PEMAHAMAN AKAN KEHENDAK ALLAH ADALAH SEBUAH UNDANGAN UNTUK MENYERAHKAN HIDUP KE DALAM KUASA-NYA.

Sumber : Renungan Harian