DI PERUT IKAN (Yunus 2:1-10)
Dikirim oleh : Evi Sjiane Djiun

Berdoalah Yunus kepada TUHAN, Allahnya, dari dalam perut ikan itu. (Yunus 2:1)

Kenyataan hidup sering membawa manusia berada di tempat-tempat yang tidak lazim. Kotor. Berbau. Sesak. Pengap. Gelap. Tidak layak. Jauh dari manusiawi. Bencana alam membuat manusia berada di antara reruntuhan gedung atau di kemah pengungsian. Peperangan menjerumuskan orang ke lumpur rawa, hutan rimba, lubang bawah tanah, atau kamp tawanan. Penyakit menggiring manusia tergolek di bangsal rumah sakit. Kesalahan mengurungnya di balik jeruji penjara.

Perut ikan juga bukan tempat yang wajar bagi Yunus. Di situlah ia berada selama tiga hari tiga malam. Bagaimana perasaannya? Arus air yang menggelora, bagi orang Israel kuno, adalah simbol dari kebinasaan yang menakutkan. Di situ Yunus merasa begitu dekat dengan kematian. Terlempar ke tempat yang dalam dan kelam. Dikepung dan dilingkupi oleh air. Dibelit rumput laut. Lendir di kiri dan di kanan. Berbau anyir. Gelap. Ia merasa jauh dari mana-mana, kecuali gerbang maut. Tersisa satu hal yang bisa ia lakukan: berdoa. Dan itulah yang akhirnya membuat ia sadar: Tuhan tidak meninggalkannya sekalipun ia berada di perut ikan.

Anda sedang berada di tempat yang menyesakkan seperti itu? Bilik rumah sakit? Kamar tahanan? Ruang tunggu operasi? Ruang pengadilan? Lakukanlah hal yang satu ini: Berdoa. Percayalah itu tak akan sia-sia. Kehadiran dan rengkuhan Tuhan tidak dapat dibatasi oleh kondisi apa pun di dunia ini, di tempat yang paling kelam sekalipun. Justru di tempat gelapi itu Anda dapat merasakan betapa kuat dekapan-Nya. –PAD

DI TEMPAT PALING KELAM SEKALIPUN, KEHADIRAN TUHAN MENDATANGKAN TERANG DAN KETENANGAN.

Sumber : Renungan Harian