GOYAH SAAT MENANTI (Kejadian 16:1-16)
Dikirim oleh : Evi Sjiane Djiun

Berkatalah Sarai kepada Abram: “Engkau tahu, TUHAN tidak memberi aku melahirkan anak. Karena itu baiklah hampiri hambaku itu; mungkin oleh dialah aku dapat memperoleh seorang anak.” (Kejadian 16:2)

Menanti bukanlah kegiatan yang menyenangkan bagi kebanyakan orang. Ketika seseorang menanti, ia menghadapi ketidakpastian tentang apa  yang akan terjadi. Apalagi kalau masa penantian itu begitu lama. Tidaklah mengherankan jika ada orang yang akhirnya menyerah dan  mengambil jalan pintas.

Ini pula yang terjadi pada Abram dan Sarai dalam bacaan hari ini.  Kisah ini terjadi sekitar sebelas tahun setelah Tuhan berjanji bahwa  Abraham akan menjadi bapak bangsa yang besar. Kita tentu setuju bahwa sebelas tahun adalah periode waktu yang sangat panjang bagi  siapa pun yang sedang menanti, apalagi bagi Abram dan Sarai yang  sudah sangat tua.

Tak heran kalau kemudian, di tengah kegundahan menantikan pemenuhan  janji ini, keyakinan Abram dan Sarai goyah. Akibatnya mereka  mengambil jalan pintas untuk “membantu” Allah memenuhi janji-Nya, dan akhirnya lahirlah Ismael dari Hagar. Tetapi, kita tahu bahwa  usaha mereka ini kemudian justru mendatangkan banyak masalah bagi  mereka sendiri, bagi Hagar, dan bagi keturunan mereka.

Apakah saat ini Anda sedang menantikan pemenuhan janji Tuhan atau  jawaban dari-Nya? Mungkin itu soal buah hati, soal jodoh, soal  karier, dsb.? Jangan menyerah! Tetapi, jangan pula mengambil jalan pintas melalui cara yang tidak kudus, seperti menggunakan bantuan  ilmu klenik. Sebaliknya, pakailah waktu menanti ini untuk  mempersiapkan diri sebaik mungkin sehingga ketika akhirnya Tuhan menjawab penantian tersebut, Anda siap menyambutnya dengan penuh  rasa syukur. –AS

TUHAN SANGGUP UNTUK MEMENUHI JANJI-NYA; KITA TIDAK PERLU REPOT-REPOT MEMBANTU-NYA.

Sumber : Renungan Harian