KEMBALI KEPADA BAPA (Lukas 15:11-32)
Dikirim oleh : Evi Sjiane Djiun

Sebab anakku ini telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali. Lalu mulailah mereka bersukaria. (Lukas 15:24)

Agustinus, bapa gereja yang hidup pada abad kelima, sebelumnya hidup jauh dari Tuhan. Kehidupan moralnya bobrok. Ia berpikir akan menemukan kebenaran dan kedamaian sejati di luar Kristus. Dalam situasi seperti ini, beruntung ia mempunyai seorang ibu yang setia  mendoakannya dengan cucuran air mata supaya ia bertobat. Sampai pada suatu saat Agustinus menyadari kesalahannya, kemudian bertobat dan menyerahkan hidupnya sebagai hamba Tuhan.

Anak bungsu dalam perumpamaan ini bisa jadi juga berpikir, “Aku akan menemukan kebahagiaan di luar sana yang tidak akan kudapatkan jika selalu bersama dengan bapa.” Pada mulanya, ia mendapatkan  kebahagiaan yang ia idam-idamkan (ay. 13). Namun, hal itu ternyata  hanya sementara. Ketika hartanya habis, hidupnya menderita, sesuatu yang belum pernah ia alami ketika tinggal bersama bapanya (ay.  14-17). Beruntung kemudian ia sadar dan ingat kehidupan pada masa lalu bersama dengan bapanya dan memiliki kerinduan untuk pulang (ay.  18-19). Situasi sulit telah menyadarkan si bungsu bahwa ada sesuatu yang salah dalam hidupnya. Ia mengambil keputusan tepat. Ternyata, bapanya pun merindukan anak itu kembali. Dan ia mendapati, hidup  bersama dengan bapanya jauh lebih bahagia daripada saat ia melarikan diri.

Adakah di antara kita yang saat ini pergi dan meninggalkan “rumah  Bapa”? Hal itu mungkin tampak menyenangkan pada mulanya. Tetapi,  pada akhirnya pelarian kita akan berujung pada penderitaan. Jadi, lebih baik kita segera berbalik kembali kepada Bapa. –Yakobus Budi  Prasojo

MENYADARI KESALAHAN DAN BERTOBAT BUKANLAH TINDAKAN MEMALUKAN, MELAINKAN SEBUAH KEBERANIAN.

Sumber : Renungan Harian