ALLAH VS FIRAUN (Matius 10-11)
Dikirim oleh : Evi Sjiane Djiun

Tetapi makin ditindas, makin bertambah banyak dan berkembang mereka, sehingga orang merasa takut kepada orang Israel itu. (Keluaran 1:12)

Dalam cerita humor, sekelompok ilmuwan mendatangi Tuhan, meminta-Nya untuk pensiun karena, berkat kemajuan teknologi, mereka  sudah bisa menciptakan kehidupan sendiri. “Oya?” kata Tuhan. “Coba kita lakukan dengan cara kuno seperti ketika Aku menciptakan Adam  dulu.” Para ilmuwan itu menyanggupi, dan mulai membungkuk untuk meraup debu tanah. “Hei, tunggu dulu!” kata Tuhan. “Kalian harus  menyiapkan sendiri debu tanahnya!”

Firaun juga menantang Allah. Bukan dalam hal penciptaan, namun  dengan berupaya menggagalkan rencana Allah atas umat-Nya. Ketika  jumlah bangsa Israel makin banyak, ia menindas mereka dengan kerja paksa. Namun, ia gigit jari. Bukannya menyusut, jumlah mereka malah  makin berlipat. Ia lalu melancarkan serangan kedua: memerintahkan  para bidan membunuh bayi laki-laki yang baru dilahirkan perempuan Israel. Perintah ini ditelikung. Para bidan lebih memilih untuk  takut kepada Allah daripada kepada Firaun. Di ujung perikop, Firaun sedang melancarkan serangan ketiga. Namun, kita tahu, pada akhirnya  Firaun kalah telak.

Di dalam Kristus, Allah ada di pihak kita. Firaun melambang-kan Iblis yang hendak mencuri, membunuh, dan membinasakan umat Allah.  Syukurlah, Allah itu mahakuasa: Dia sanggup menggagalkan segala rencana Iblis. Allah juga setia: Dia tidak bakal meninggalkan  umat-Nya. Terbukti, diterpa tantangan seberat apa pun, umat-Nya terus bertumbuh. Bukankah kebenaran ini dapat membangkitkan rasa  syukur, keberanian, dan damai sejahtera pada diri kita? –AS

KEMAHAKUASAAN ALLAH MEMBERI KITA KEBERANIAN; KESETIAAN ALLAH MEMBERI KITA DAMAI SEJAHTERA.

Sumber : Renungan Harian