PERENCANAAN ORANG PERCAYA
Dikirim oleh : Evi Sjiane Djiun

Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu. (Yakobus 4:15)

Semua orang melakukan perencanaan, namun tidak semua orang mampu menyusun rencana secara efektif. Kita pun kerap mendengar perkataan ini, “Gagal merencanakan adalah merencanakan untuk gagal.” Perencanaan, dengan demikian, persoalan yang penting. Bagaimana hal ini dipandang dalam iman Kristen?

Yakobus mencontohkan perencanaan seorang pedagang yang congkak. Pernyataan pedagang itu menyatakan bahwa ia berkuasa akan hari esok, perjalanan, bahkan laba yang akan ia dapatkan (ay. 13). Masalah  utamanya: ia tidak sadar akan kefanaan manusia. “Uap” menggambarkan sesuatu yang tidak tinggal tetap, melainkan hanya hadir dalam  hitungan detik, dan selanjutnya tidak kelihatan lagi. Maksudnya, kehidupan manusia itu datang dan pergi secara tidak terduga. Ada  yang terlihat sehat, ternyata esoknya meninggal; ada yang  sakitsakitan, namun ajal tidak kunjung menjemput. Jadi, kita tidak dapat menyusun rencana secara congkak. Dalam terjemahan Alkitab  versi Raja James, kecongkakan semacam itu dikecam sebagai “kejahatan” (ay. 16).

Mungkin kita berpikir bahwa kemampuan dan pengalaman yang kita miliki akan memungkinkan kita meraih sukses dalam pekerjaan dan  mengalami taraf hidup yang lebih baik. Tetapi, bagaimanakah sikap kita bila perencanaan kita gagal? Apakah kita sambil  bersungut-sungut berkata, “Okelah, Tuhan, jadilah kehendak-Mu” ataukah dengan lega dan secara sadar kita berkata, “Jadilah kehendak-Mu”? Hal itu menunjukkan apakah kita memperhitungkan Allah dalam perencanaan kita atau tidak. –Vincent Tanzil

MENYUSUN RENCANA DALAM IMAN BERARTI MENYUSUN RENCANA DENGAN MENGANDALKAN PENYERTAAN TUHAN.

Sumber : Renungan Harian

Advertisements