PANGGILAN MELAYANI (Yeremia 1:4-19)
Dikirim oleh : Evi Sjiane Djiun

Janganlah katakan: Aku ini masih muda, tetapi kepada siapa pun engkau Kuutus, haruslah engkau pergi, dan apa pun yang Kuperintahkan kepadamu, haruslah kausampaikan. (Yeremia 1:7)

Bayangkan Anda tengah berada dalam krisis multidimensionaler skala nasional, dan Tuhan memanggil Anda untuk menjadi nabi-Nya  bagi bangsa-bangsa (ay. 4), sebuah pelayanan lintas negara. Anda dipanggil untuk menyampaikan berita yang berdampak bagi bangsa yang  terancam (Yehuda) dan yang mengancam (Babel). Ini sebuah kepercayaan yang amat besar, sekaligus sebuah tugas yang jauh dari sepele!

Jika pada awalnya Yeremia tampak gentar, tentulah kita dapat  memahaminya. Untuk menjadi nabi bagi bangsa-bangsa di tengah suasana  genting seperti itu, tentu dibutuhkan seseorang yang berpengalaman, matang, mantap, sudah terbukti dan teruji validitasnya. Siapa yang  mau mengambil risiko dengan menempatkan seseorang yang masih hijau? Yeremia pun tampaknya tahu diri sehingga ia berusaha mengelakkan  panggilan itu. Namun, panggilan Tuhan memang melampaui perhitungan  manusia. Dalam perspektif-Nya, kemudaan dan kekurangpiawaian wicara bukan alangan. Dalam misteri panggilan-Nya, Tuhan bahkan sudah  mengenal dan menguduskan Yeremia sebelum ia hadir di rahim ibunda (ay. 4)! Bukan hanya memilih, Tuhan juga menyertainya. Dalam ay.  7-10, setidaknya ada lima kata kerja yang menyatakan penyertaan Tuhan.

Bukankah itu suatu penegasan yang kuat bahwa jika Tuhan memanggil  kita untuk bekerja, Dia sendiri turut bekerja melalui pekerjaan  kita? Indah, bukan? Bagaimana dan apa tanggapan kita terhadap panggilan Tuhan dalam konteks kita masing-masing? Apakah jawaban  Anda? –DKL

TUHAN TIDAK PERNAH MELEPASKAN KITA SEORANG DIRI; DIA SENANTIASA MENYERTAI KITA DALAM MENJALANKAN PANGGILAN-NYA.

Sumber : Renungan Harian