MEMURNIKAN KEINGINAN (1 Samuel 1:1-11)
Dikirim oleh : Evi Sjiane Djiun

… maka aku akan memberikan dia kepada TUHAN untuk seumur hidupnya dan pisau cukur tidak akan menyentuh kepalanya. (1 Samuel 1:11b)

Seorang teman berkata kepada saya, “Aku ingin mencari pekerjaan sambilan.” Selama ini gajinya rendah sehingga ia hanya bisa menyewa  sebuah kamar kos yang kecil. Ia ingin tinggal di kontrakan yang lebih besar atau syukur-syukur punya rumah sendiri. Jika keinginan  itu terpenuhi, menurutnya, ia akan lebih bahagia. Wajar orang memiliki keinginan semacam itu. Dan, ada banyak alasan  di balik keinginan-keinginan itu. Bisa berupa kepuasan pribadi, bisa juga agar orang lain merasa senang.

Hana, istri Elkana, ingin mempunyai anak. Sebuah keinginan yang  wajar bagi seorang perempuan bersuami. Keinginan itu diperkuat  perlakuan buruk dari madunya, Penina. Karena itu, ia berdoa kepada Tuhan agar diberi anak lakilaki. Salah satu sisi penting dari doa  Hana adalah janjinya untuk mengembalikan anak yang akan dikandungnya kelak kepada Tuhan (ay. 11). Dengan kata lain, keinginannya itu ia  kembalikan lagi semata-mata untuk menyenangkan Tuhan. Doa Hana dikabulkan, dan lahirlah Samuel. Samuel adalah tokoh penting dalam  perkembangan bangsa Israel. Ia menjadi perantara Allah untuk menyampaikan sabda kepada umat-Nya.

Kita dapat meneladani Hana dalam hal memurnikan keinginan. Kita  boleh saja memiliki keinginan ini dan itu. Namun, alangkah baiknya  jika Allah menjadi poros keinginan kita—bukan melulu untuk kesenangan pribadi atau kelompok. Dengan demikian, jika keinginan  itu dikabulkan, hal yang kita peroleh akan sejalan dengan kehendak Bapa dan dapat memberkati orang-orang di sekitar kita. –CKW

KIRANYA TUHAN BUKAN HANYA MENJADI TEMPAT KITA MEMINTA, TETAPI KIRANYA KEHENDAK-NYA JUGA MENJADI PUSAT KEINGINAN KITA.

Sumber : Renungan Harian