Kuasa Perkataan (Yakobus 3:1-12)
Oleh : Deny S Pamudji

Sebab kita semua bersalah dalam banyak hal; barangsiapa tidak bersalah dalam perkataannya, ia adalah orang sempurna, yang dapat juga mengendalikan seluruh tubuhnya. (Yakobus 3:2)

Mungkin hal yang paling sulit kita lakukan ialah tidak mengucapkan kata-kata atau tidak bercakap-cakap.  Karena siapa pun kita, pasti ingin menyampaikan apa yang kita rasakan, pikirkan, dan renungkan.  Kita bisa jadi tidak bercakap-cakap dengan orang lain, tetapi kita mungkin bercakap-cakap dengan tuhan, atau pun kita juga bisa bercakap-cakap dengan diri kita sendiri dalam perenungan atau meditasi kita.

Karena begitu mudahnya berkata-kata, maka seringkali kita mengucap kata-kata yang tidak kita inginkan untuk perkatakan.  Bisa jadi setelah mengucapkan kata tersebut seseorang menjadi tersinggung dan sakit hati, dan kita pun setelah menyadari hal itu menjadi menyesal karena telah menyinggung seseorang.

Perkataan bisa membawa akibat positif dan akibat negatif.  Seorang anak yang sering disebut bodoh oleh orangtuanya, akan cenderung menjadi bodoh.  Karena kata bodoh tersebut merasuk jiwanya dan sehingga dia merasa bahwa betul dia seorang anak yang bodoh.  (Para orangtua, berhati-hatilah dengan perkataan kalian!)

Sebaliknya, seorang anak yang disemangati orangtuanya dengan perkataan misalnya, “Kamu pasti bisa mengerjakannya karena kamu mempunyai kemampuan untuk itu” akan merangsang bawah sadar anak itu sehingga anak itu mempunyai keyakinan bahwa dia mampu melakukannya dan akhirnya dia bersemangat untuk memecahkan persoalan yang ada.

Jangan lupa juga bahwa alam semesta dengan segala isinya dijadikan oleh Tuhan melalui perkataan.  Jadilah langit, jadilah bumi, maka semua terjadi.  Dengan perkataan juga, sakit, kelumpuhan, dan kematian menjadi sembuh, berjalan, dan hidup.  Jelas betapa dahsyatnya kuasa perkataan.

Karena ada kekuatan dibalik perkataan, maka kita diharapkan menjaga perkataan kita dari segala umpat, kutuk, gerutu, dan canda yang tiada artinya.  Mengapa begitu?  Supaya dari mulut kita hanya terpencar sesuatu yang positif dan baik.

Firman Tuhan mengatakan siapa yang bisa mengendalikan lidahnya, maka pastilah dia bisa menguasai tubuhnya.  Sebab itu mulailah sekarang belajar mengekang atau mengendalikan lidah kita agar kita hidup berbahagia karena semua yang kita katakan adalah hal yang positif, membangkitkan semangat, menyembuhkan orang, dan menguatkan iman yang lemah.

Semoga kiranya kita merupakan orang-orang yang bisa mengendalikan lidah kita.  Tuhan memberkati.