Najis (Matius 15:1-20, Markus 7:1-23)
Oleh : Deny S Pamudji

Yang membuat seseorang najis, bukanlah yang masuk ke dalam mulut, tetapi yang keluar dari mulut orang itulah yang membuatnya najis (Matius 15:11)

Diceritakan dalam bacaan di atas bahwa orang-orang Farisi dan guru Taurat menanyakan pada Yesus mengapa murid-murid-Nya tidak melakukan seperti yang dilakukan nenek moyang mereka atau dengan kata lain mengapa murid-murid Yesus tidak melakukan ajaran yang telah dijalankan turun-menurun atau tradisi.

Yesus adalah seorang guru yang pragmatis dan efisien.  Artinya Yesus tahu mana yang lebih penting dan lebih utama dibandingkan dengan menjalankan tradisi.  Di saat orang-orang mengharamkan kerja di hari Sabat, Yesus malah menyembuhkan orang sakit.  Pemberontakankah itu?!  Ya, bagi pandangan yang lain, tetapi, Yesus ingin membuka mata hati mereka bahwa jauh lebih penting melakukan hal yang baik/berguna dibanding dengan hanya mengikuti tradisi atau aturan-aturan tertentu.

Kembali ke bacaan di atas, Yesus dihadapkan dengan perkara kenajisan.  Makan sesuatu dengan tidak mencuci tangan terlebih dulu ternyata masuk dalam kategori kenajisan.  Yesus tidak menjawab langsung perihal tersebut, namun Dia menegur orang-orang Farisi dan guru Taurat yang dengan sengaja memanipulasi/menyelewengkan tradisi/aturan nenek moyang untuk kepentingan mereka.

Setelah mengingatkan mereka akan penyelewengan yang mereka lakukan, Yesus kemudian menyatakan bahwa kenajisan seseorang bukan karena apa yang dia makan, melainkan apa yang dikeluarkan orang itu, atau tegasnya seseorang menjadi najis dengan perkataan yang dikeluarkan atau diucapkannya.  Sebab itu hati-hatilah menjaga perkataan kita.

Bagaimana kita menjaga perkataan kita?  Ada yang mengatakan bahwa segala sesuatu itu terjadi karena pikiran kita.  Jika pikiran kita tidak beres, maka perkataan dan perbuatan kita menjadi tidak beres juga.  Dengan kata lain perkataan/perbuatan kita bisa dikendalikan jika kita bisa mengendalikan pikiran kita.

Entahlah bagaimana dengan pengalaman yang lain, cuman pengalaman saya menunjukkan bukan pikiran yang penting, melainkan hati yang terutama.  Dulu saya diajarkan jika kita dalam keadaan benci, pikirkanlah cinta kasih.  Jika kita marah, pikirkanlah tentang belas kasihan.  Singkatnya memikirkan apa yang menjadi lawan atau hal yang berbeda dengan pikiran saat itu.

Bertahun-tahun saya mengerjakan hal tersebut, namun selalu saja gagal.  Hingga akhirnya saya mengenal Yesus dan menerima dia sebagai Tuhan dan Juru Selamat saya.  Dan setelah melalui proses pendewasaan rohani, saya akhirnya mengetahui bahwa jika hati kita bersih, maka semuanya menjadi bersih.

Kita bisa saja menekan pikiran negatif dengan pikiran positif, namun jika hati kita tidak bisa menerima, maka setiap kali kita bersentuhan dengan orang atau kasus itu lagi, maka sudah muncul pikiran negatif itu.  Tetapi jika hati kita menerima, maka pikiran itu tidak akan muncul.

Apa rahasianya mempunyai hati yang bersih?  Pertama hati kita telah dikuduskan.  Bagaimana hati bisa dikuduskan?  Tidak ada jalan lain selain menerima Yesus dan mengundang Dia masuk dalam hatimu.

Kedua, ingatlah Tuhan telah memberikan kita pembebasan seutuhnya artinya tidak satu pun kesalahan kita akan diperhitungkan.  Dan sebagai syarat untuk dapat menjaga hati kita tetap kudus, maka kita harus siap untuk memaafkan setiap orang yang bersalah pada kita baik yang tidak sengaja maupun yang melakukannya dengan rencana/maksud tertentu.

Silakan buktikan sendiri bahwa bila hatimu bisa melepaskan semua itu, maka engkau akan mempunyai pikiran yang benar dan perkataan maupun perbuatanmu pun akan menjadi benar dengan sendirinya.

Tidak inginkah Anda memiliki hati yang kudus?

Advertisements