KEKUATAN CINTA (Kidung Agung 8:5-7 & Bilangan 19-21)
Dikirim oleh : Fransisca Adella Kipuw

Air yang banyak tak dapat memadamkan cinta, sungai-sungai tak dapat menghanyutkannya (Kidung Agung 8:7) Kerap orang kemudian mengartikannya sebagai ketundukan yang memposisikan istri sebagai pelayan dan pengikut kehendak suami Bilangan 19-21

Robertson McQuilkin mengundurkan diri dari jabatannya sebagai rektor Universitas Internasional Columbia demi merawat Muriel, istrinya, yang mengalami alzheimer atau gangguan fungsi otak. Muriel sudah tidak bisa apa-apa, bahkan untuk makan, mandi, serta buang air pun, ia harus dibantu. Pada 14 Februari 1995 adalah hari istimewa-tanggal itu, 47 tahun lalu, Robertson melamar Muriel-maka ia memandikan Muriel dan menyiapkan makan malam kesukaannya. Menjelang tidur ia mencium Muriel, menggenggam tangannya, dan berdoa, "Bapa surgawi, jagalah kekasih hatiku ini sepanjang malam, biarlah ia mendengar nyanyian malaikat-Mu."

Paginya, ketika Robertson sedang berolahraga dengan sepeda statis, Muriel terbangun. Ia tersenyum kepada Robertson. Dan, untuk pertama kali setelah berbulan-bulan Muriel tak pernah berbicara, ia memanggil Robertson lembut, "Sayangku …". Robertson terlompat dari sepeda statisnya. Ia memeluk Muriel. "Sayangku, kamu benar-benar mencintaiku?" tanya Muriel lirih. Robertson mengangguk dan tersenyum. "Aku bahagia." Itulah kata-kata terakhir Muriel sebelum meninggal.

Alangkah indahnya relasi yang didasarkan pada cinta; tidak ada kepedihan yang terlalu berat untuk dipikul. Cinta adalah daya dorong yang sangat ampuh untuk kita selalu melakukan yang terbaik; menjalani kegetiran tanpa isak, melalui kepahitan tanpa keluh, melewati lembah kekelaman dengan kepala tegak. Tak heran Salomo pun mengatakan, cinta kuat seperti maut (ayat 6). Maka, mari kita menumbuhkembangkan cinta di hati, untuk melandasi setiap tindakan dan ucapan kita; di mana pun dan kapan pun –AYA

CINTA ADALAH DASAR YANG KOKOH TEGUH UNTUK SEBUAH RELASI

Sumber : Renungan Harian

Advertisements