LEMAH LEMBUT (1 Tesalonika 2:1-8)
Dikirim oleh : Fransisca Adella Kipuw

Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi (Matius 5:5)

Kalau kamu tidak bertobat, tinggalkan rumah ini!" seru Pendeta Joe pada Tim, anaknya, yang terlibat pergaulan bebas. Tim langsung minggat. Menyewa indekos. Suatu malam ayahnya ditelepon seseorang. "Anakmu ada di penjara. Ia terlibat perdagangan narkoba!" Segera sang ayah mencarinya di penjara, tetapi anaknya tidak ada di situ. Ternyata berita telepon itu salah sambung. Maka, Joe ber-usaha mencari tempat kos Tim. Menjelang subuh baru ketemu. Anaknya itu sedang tidur. Ia masuk ke kamarnya, berlutut dan memeluknya, lalu berkata: "Tim, kamu baik-baik saja, kan? Ayah sayang padamu!"  Ketika Tim melihat kelemahlembutan ayahnya, hatinya pun tersentuh. Ia pun pulang dan bertobat.

Kelemahlembutan kadang dipandang sebagai kelemahan. Orang lebih suka bersikap keras untuk menunjukkan kuasa dan wibawa. Padahal kelemahlembutan lebih ampuh! Ketika Paulus berkunjung ke Tesalonika, para lawannya telah menghasut jemaat. Paulus dituduh gagal menjalankan misinya, sehingga dianiaya di Filipi. Menghadapi hasutan itu, Paulus tidak bersikap keras dengan menunjukkan otoritasnya sebagai rasul. Ia tidak menghabisi para lawannya, atau membesarkan diri untuk merebut simpati. Namun, ia bersikap seperti ibu yang mengasuh anaknya. Lemah lembut. Berusaha mendengar dan memahami kebutuhan mereka. Belajar merendah dan melayani. Sikap itulah yang membuatnya disegani.

Apakah Anda dikenal sebagai orang yang kasar atau lemah lembut? Suka memotong pembicaraan atau membiarkan orang lain berbicara? Pemarah atau mudah mengalah? Jika Anda mau dihormati, terapkan kelemahlembutan –JTI

HATI YANG KERAS BISA DIKALAHKAN JIKA ANDA PUNYA SENJATA KELEMAHLEMBUTAN

Sumber : Renungan Harian