Mengapa perpuluhan itu penting?

"Bawalah seluruh persembahan persepuluhan itu ke dalam rumah perbendaharaan, supaya ada persediaan makanan di rumah-Ku dan ujilah Aku, firman Tuhan semesta alam, apakah Aku tidak membukakan tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan." (Maleakhi 3:10)

Persepuluhan adalah memberikan 10% dari pendapatan kita kepada Tuhan untuk membiayai pekerjaan rumah-Nya. Hal ini disebabkan karena Tuhan memilih untuk menyediakan kebutuhan hamba-hamba-Nya lewat hamba-hamba-Nya juga. Lagipula segala yang kita miliki adalah pemberian dari Tuhan, dengan demikian perpuluhan hanyalah mengembalikan sebagian kecil dari apa yang telah Ia berikan kepada kita.

Pesan nabi Maleakhi kepada orang Yahudi yang tinggal di Yerusalem dimaksudkan untuk mengingatkan mereka kembali akan cinta dan kasih setia Tuhan, disamping menghardik ketidaktaatan mereka yang mempermalukan nama Tuhan (1:6). Perkataan yang dicatat dalam kitab Maleakhi ini membuka kepada kita kehidupan sebuah bangsa yang tidak setia dan bersalah karena penyembahan palsu (1:7-14); mereka menyimpan bagian yang seharusnya digunakan untuk perpuluhan dan persembahan kepada Tuhan untuk diri mereka sendiri (3:8-12). Dengan berbuat demikian, mereka merusak hubungan mereka dengan Tuhan dan sebagai akibatnya adalah penghakiman dan hukuman.

Kabar baiknya adalah masih ada sedikit orang yang setia. Mereka mencintai dan menghormati Tuhan, dan sebagai gantinya Tuhan menghujani mereka dengan berkat (3:16-18). Pesan yang terkandung dalam kitab Maleakhi sangatlah penting, lebih dari yang kita pikir. Jika kita mematuhi firman Tuhan dan memberikan bagian yang Ia minta dari kita dengan penuh suka cita, Ia akan memberkati kita juga pekerjaan kerajaan-Nya. Kita pun akan terus menikmati hubungan yang intim dengan Tuhan.

Beberapa tahun yang lalu, Tuhan memimpin kami untuk membeli beberapa property untuk gereja. Sebagai tubuh Kristus, kami tahu betul itulah yang Tuhan ingin kami lakukan, jadi kami mulai berdoa agar Ia menyediakan segala dana yang dibutuhkan, jauh melebihi perpuluhan yang kami beri. Saya sendiri mulai mendoakan apa yang harus saya beri. Tuhan lalu mulai menunjukkan kepada saya untuk menjual kamera-kamera saya. Hobi saya adalah fotografi, dengan begitu jelaslah bahwa kamera-kamera tersebut adalah barang berharga buat saya. Meskipun demikian, saya yakin itulah yang diminta oleh Tuhan. Sebagai gembala, saya harus memberikan teladan yang baik atau saya akan menjada sama tidak taatnya seperti imam-imam di Maleakhi pasal 1. Saya juga diingatkan tentang sebuah perumpaan Tuhan Yesus tentang anak muda yang kaya raya. Injil Markus mengatakan Yesus berkata, "..juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah …" (Markus 10:21). Maka saya menjual kamera saya dan memberikan uangnya kepada gereja. Banyak anggota jemaat kami yang juga memberikan uang dan harta miliknya untuk dana ini. Masa itu adalah masa yang luar biasa di dalam persekutuan kami; bersama-sama kami mencari kehendak-Nya untuk keuangan kami dan bersama-sama kami menguji diri sendiri apakah kami mau menaati perintah Tuhan atau tidak.

Kami percaya bahwa Tuhan akan menyediakan, dan memang betul. Beberapa bulan kemudian saya menerima telepon dari seorang wanita yang bertanya apakah saya adalah "Charles Stanley yang itu" yang memiliki kamera tertentu. Saya menjawab, "Ya, betul," dan ia berkata, "Saya membeli kamera ini dan Tuhan mengatakan kepada saya untuk memberikannya kepadamu." Saya terkejut mendengarnya, tetapi kemudian sadar hal itu terjadi hanya karena Tuhan menghargai ketaatan saya yang bersedia mengorbankan kamera tersebut.

Prinsip perpuluhan sangat relevan dengan kehidupan sekarang. Namun banyak yang membuat berbagai macam alasan untuk tidak mengembalikan bagian 10% tersebut kepada Tuhan. Mereka mengeluhkan tentang krisis ekonomi dan PHK, beban pajak, pokoknya segala kemungkinan terburuk yang bisa mereka pikirkan. Mereka membiarkan keadaan menghalangi mereka memberi, dan kemudian bertanya-tanya mengapa kehidupan mereka tidak bertambah baik? Bukankah keadaan sekarang sama saja dengan keadaan orang-orang yang tidak setia yang hidup di jaman Maleakhi?

"Sejak zaman nenek moyangmu kamu telah menyimpang dari ketetapan-Ku dan tidak memeliharanya. Kembalilah kepada-Ku, maka Aku akan kembali kepadamu, firman Tuhan semesta alam. Tetapi kamu berkata: ‘Dengan cara bagaimanakah kami harus kembali?’ Bolehkah manusia menipu Tuhan? Namun kamu menipu Aku. Tetapi kamu berkata: ‘Dengan cara bagaimanakah kami menipu Engkau?’ Mengenai persembahan persepuluhan dan persembahan khusus!" (Maleakhi 3:7-9)

Ketika kita memberikan persepuluhan kepada Tuhan, kita tidak hanya memberkati pekerjaan rumah Tuhan namun juga membuktikan kesetiaan-Nya dan menunjukkan penghormatan kita kepada Tuhan sebagai Sumber dari segala yang kita miliki dan satu-satunya Tuhan yang layak kita sembah. Kita membawa ke hadapan-Nya korban persembahan dan harta benda kita. Persepuluhan adalah sebuah contoh lain dari keadilan Tuhan kepada semua orang percaya; Tuhan menganggap semua orang percaya sejajar. Ia meminta jumlah yang sama (10%) dan bagian yang sama (bagian sulung, Amsal 3:9-10) dari semua orang percaya.

Kita mendapat perlakuan yang sama dalam masalah persepuluhan. Pertama, kita berdosa apabila kita merampok Tuhan dari bagian yang seharusnya kita adalah hak-Nya. Kedua, kita tidak menghormati Tuhan ketika kita hanya memberikan sisa atau bagian yang tidak kita inginkan (Maleakhi 1:6-8,13) dan itu merupakan penghinaan kepada nama-Nya yang kudus (1:12). Yang terakhis, kita bersikap sombong dan tinggi hati kepada Tuhan (3:15) saat kita berpikir tidak perlu untuk menaati Tuhan.

Janji Tuhan menanti mereka yang patuh. Dia menantang kita untuk memberi-Nya kesempatan untuk membuktikan hal ini. Dia berjanji bahwa kita akan diberkati sebagai ganti ketaatan kita (Amsal 3:9-10; Lukas 6:38). Dia akan melindungi keuangan kita sama seperti saat Ia melindungi hasil pertanian hamba-Nya yang taat dan setia dari serangan hama di Perjanjian Lama. Yang terpenting, pada saat kita diberkati, hal itu akan menjadi kesaksian bagi orang lain dan dengan demikian menarik mereka datang kepada Tuhan.

Menurut Maleakhi, bangsa Yahudi telah terbebas dari penyembahan berhala, tetapi mereka menjadi sembrono dan acuh tak acuh akan banyak hal. Para imam menjadi lalai terhadap tugasnya dan rakyat pun mengabaikan rumah Tuhan. Banyak orang membawa persembahan yang cacat ke Bait Suci dan dosa mulai berlimpah-limpah dalam masyarakat. Lihatlah sekeliling kita. Tidakkah kita membuat kesalahan dengan mengabaikan hal yang serupa?

Apakah kita memandang gereja sebagai "hanya" sebuah gedung semata, atau rumah Tuhan tempat kita datang untuk mengenal Tuhan Yesus dan melihat hidup kita diubahkan? Apakah kita berpikir bahwa hobi kita dan iklim ekonomi jauh lebih penting dari mengembalikan sebagian dari pendapatan kita kepada Tuhan yang telah melimpahkan kasih karunia dan kebaikannya sebegitu rupa kepada kita? Kita menunjukkan kebodohan dan kesombongan kita ketika kita tidak mengakui apa yang telah Tuhan sediakan bagi kita dan rencana-Nya untuk kembali kepada-Nya. Kita mengeluh tentang persepuluhan sebagai sebuah hukuman padahal Alkitab menjanjikan perlindungan Tuhan kepada sumber pendapatan kita.

Berikanlah kepada Tuhan bagian sulung dari pendapatanmu untuk membuktikan bahwa Ia menduduki tempat terutama dalam hidupmu, dan bahwa engkau menyadari Tuhan adalah sumber dari segala hal yang engkau miliki. Ketika engkau menaati Tuhan, engkau bisa mengalahkan ketamakkan dan mengelola pendapatan yang Ia berikan dengan baik. Engkau telah membuka hatimu untuk menerima berkat istimewa dari Tuhan.

Sumber : Financial Stewardship, dr. Charles Stanley Diterjemahkan oleh Idawati, SE

Advertisements