KASIH IBU (2 Raja-raja 4:8-37)
Dikirim oleh : Fransisca Adella Kipuw

"Suruhlah salah seorang bujang dengan membawa seekor keledai betina; aku mau pergi segera kepada abdi Allah itu, dan akan terus pulang (2 Raja-raja 4:21,22)

Sewaktu kecil, saya sering sakit. Bersyukur, ibu saya selalu sigap  merawat. Jika panas tubuh saya tidak turun dalam sehari, Ibu pasti segera membawa saya ke rumah sakit. Tidak mau membuang-buang waktu. Beliau tidak mau saya terlambat mendapat pertolongan medis. Walau sedang repot, atau tidak punya biaya untuk pengobatan di rumah sakit, Ibu tidak putus asa. Apa pun akan ia lakukan demi anak yang ia kasihi. Sampai setelah saya berkeluarga, Ibu masih menjadi orang nomor satu yang datang ke rumah jika mendengar saya sakit.

Seperti wanita di Sunem yang mendapat berkat anak laki-laki setelah lama menanti keturunan. Ketika sang anak semakin besar, si anak tiba-tiba sakit hingga meninggal. Namun demikian, sang ibu tidak  menyerah. Bahkan, ketika sang suami mencegahnya menemui Nabi Elisa untuk meminta pertolongan (ayat 23), sang ibu tidak goyah dan tetap pergi (ayat 24). Apa pun akan ia lakukan supaya anaknya hidup. Dengan kegigihan dan iman, sang ibu berhasil mendapatkan pertolongan Nabi Elisa; anaknya kembali hidup.

Terkadang, sebagai anak, kita menyepelekan atau melupakan kasih ibu. Padahal, kasih ibu adalah kehidupan bagi anaknya. Tanpa ibu yang memberi diri untuk mengasuh dan mendidik, kita tidak akan ada seperti saat ini. Kita memang mungkin tak dapat membalas kasih ibu kita, tetapi kita tentu dapat melakukan hal-hal yang menyejukkan hatinya. Lewat perhatian, sapaan, kunjungan, yang tentu melegakan hatinya. Gunakan momen khusus di Hari Ibu untuk mengingat segala jasa Ibu dan menunjukkan penghargaan kita atas segala kasih yang sudah diberikannya selama kita hidup. Dan, jangan tunda lagi! –GP

KASIH IBU TIDAK DAPAT DIBATASI OLEH APA PUN DAN AKAN SELALU MENGALIR UNTUK ANAK-ANAKNYA HINGGA KAPAN PUN

Sumber : Renungan Harian