Ketika Nenek "Gila" Itu Meneteskan Air Mata
Oleh Gurgur Manurung
Sinar Harapan, Sabtu, 21 Agustus 2004, halaman 11

Beberapa bulan yang lalu aku menjaga ibu di salah satu rumah sakit swasta di Balige. Pada pukul 2 pagi, datang pasien baru di kamar tempat ibuku dirawat. Pasien baru itu berumur 50 tahun dan diantar seorang anak kecil berumur 10 tahun dan duduk di kelas 4 Sekolah Dasar (SD). Sebelum pasien baru itu masuk, jumlah pasien di kamar itu 4 orang, dan semuanya perempuan dengan umur rata-rata 50 tahun.

Pasien baru itu hanya membawa tas kecil yang isinya sepasang baju tanpa membawa persediaan tempat minum, selimut, sisir, atau perlengkapan lainnya. Pada pukul 4 pagi, dia menyanyikan lagu-lagu gereja dengan fasih, tetapi fals. Tingkah lakunya itu mengusik pasien yang ada di kamar itu, apalagi pasien yang dekat dengannya. Kami agak jauh darinya. Sambil menyanyi, dia menggigil karena kedinginan dan memanggil-manggil nama Tuhan.

Melihat si pasien baru itu kedinginan, aku seorang yang masih sangat muda memberikan selimut, walaupun ibuku tidak menyetujuinya dengan alasan supaya aku dapat merawat ibu dengan baik. Maklum, udara Balige amat dingin saat itu. Ketika aku berikan selimutku, dia pun memegang tanganku dan mencubit pipiku dengan gemas.

Pada pukul 5 pagi, aku berdoa dan membaca Alkitab. Sampai pukul 5.30 setelah selesai aku berdoa, semua pasien dan penjaga masih tertidur lelap. Aku melihat anak kecil yang membawa si nenek itu tidur meringkuk di lantai karena kedinginan. Aku sangat kasihan melihatnya dan akupun memberi baju hangatku yang masih kupakai, karena kupikir aku akan lari pagi yang nantinya akan hangat setelah berlari.

Pada saat aku berlari, udara Balige teramat dingin dan akupun sempat menggigil karena dinginnya luar biasa. Di tengah jalan, aku minta dibuatkan air teh hangat di sebuah kantin. Setelah aku pulang ke rumah sakit, para pasien dan penjaga telah terbangun dan para mahasiswa perawat praktik sibuk membersihkan lantai. Aku duduk santai di pekarangan rumah sakit yang persis di depan kamar ibuku dirawat.

Si nenek itu menghampiri dan mengajakku bernyanyi lagu-lagu gereja sambil tepuk tangan. Jujur saja, nenek itu jorok, bau, dan rambutnya urakan, kakinya kotor, dan kukunya panjang. "Bapa Manurung (panggilan si nenek kepada aku), ayo kita menyanyi," katanya. Hampir semua orang yang melihat kami merasa jengkel. Anehnya, pasien yang dekat si nenek menuduh aku yang membuat semua itu terjadi. "Manurung, semua itu karena kamu terlalu memanjakan si nenek gila itu," kata ibu itu. Ibuku menjadi marah padaku, karena ibuku menganggap aku batu sandungan.

Bagiku tidak masalah tudingan orang, pada dasarnya di mataku semua orang sama. Aku tidak lebih hormat kepada pejabat, pendeta, orang kaya, atau siapapun jika dibandingkan rasa hormatku terhadap orang gila. Semua saudaraku dan ibuku tahu sifatku itu.

Aku sering protes kepada Tuhan dan kukatakan, Tuhan, jika Kamu mengasihiku, mengapa Engkau sepertinya tidak mengasihi orang gila itu? Walaupun protes, aku harus hormat kepada keputusan Tuhan atas dunia ini. Setelah tiga hari, nenek itu diprotes oleh yang satu kamar. Akhirnya, pihak rumah sakit memindahkannya ke ruangan khusus.

Pada saat akan pergi ke ruang khusus, si nenek bertanya,"Bapa Manurung, aku bawa selimutmu dan bajumu yang sangat bagus ini ya," katanya dengan penuh harap.

Aku mengiyakan dengan rasa haru yang mendalam. Aku ikut mengantarnya sambil melipat selimut dan bajunya yang bau. Dalam hatiku, aku protes kepada perawat yang tidak membersihkan si nenek dengan baik. Perawat enggan merawat dengan alasan keluarganya saja tidak peduli dan banyak protes lagi.

Setelah di ruang khusus, si nenek masih tetap berulah dan selalu keluar ruangan dan memanggilku kembali untuk menyanyikan lagu-lagu gereja. Si nenek semakin bertingkah. Si nenek bilang rumah sakit itu akan diajukan ke pengadilan karena tidak serius menanganinya. Makin hari si nenek makin suka berteriak dan membeberkan perilaku perawat terhadapnya selama di ruang khusus.

Anehnya lagi, dia tidak mau diam jika bukan aku yang mendiamkannya dengan lembut dan tulus. Jika mau jujur, aku tulus memberi kasih kepada nenek itu. Sementara itu, perawat dan mahasiswa praktik sudah semakin jengkel melihat tingkah si nenek. Si nenek selalu teriak bahwa dia akan mengajukan perilaku para perawat itu ke direktur rumah sakit.

Aku selalu berusaha menyadarkan para perawat dan mahasiswa praktik tidak perlu menanggapi teriakan si nenek. Kelihatan sekali mahasiswa akademi perawat itu mau menurutiku karena direktur mereka di kampus adalah sahabat karib aku pada waktu mahasiswa dulu.

Aku agak ragu melihat ketulusan di hati mereka untuk merawat si nenek itu, apalagi sudah 5 hari di rumah sakit, tak seorangpun keluarganya menjenguk. Pihak rumah sakit pun mulai curiga, bagaimana dan siapa yang menanggung biaya rumah sakit.

Melihat keadaan itu, pada hari keenam aku mulai menanyakan kepada anak kecil yang kelas 4 SD itu tentang perihal tempat tinggal dan latar belakang mereka. Ternyata mereka berasal dari Desa Muara Kabupaten Tapanuli Utara (TAPUT). Menurut anak kecil itu, si nenek memiliki banyak pohon mangga, anak perempuanya masuk saksi Yehova dan sedang sakit tumor ganas dan tergeletak di rumah, menantunya tiga bulan yang lalu meninggal bunuh diri karena ditinggal suaminya pergi ke Tanjung Pinang, Provinsi Riau.

Aku sangat kaget mendengar cerita anak kecil itu. Setelah anak kecil itu bercerita, dia minta aku untuk mengantarnya ke pelabuhan Danau Toba karena masyarakat dari Desa Muara akan datang ke Balige. Anak kecil itupun permisi kepada si nenek dan si nenek berpesan agar anak kecil itu menitipkan mangga kepada aku.

Ketika kami tiba di pelabuhan Danau Toba, masyarakat Muara yang hadir di situ menanyakan dengan siapa anak kecil itu berada di situ dan kaum bapak sangat curiga dengan keberadaan aku. Anak kecil itu menceritakan semuanya dan seorang perempuan separuh baya menanyakan siapa yang bertanggung jawab tentang hal biaya pengobatan kepada aku. Kebingungan menghantui pikiranku dan semakin tidak mengerti tentang keadaan yang sebenarnya.

Anehnya, mereka sangat marah kepadaku dan akupun hanya berserah kepada Tuhan. Aku menjelaskan keberadaanku dan meminta salah satu dari keluarga terdekat untuk membicarakan semuanya dengan pihak rumah sakit, tetapi di antara mereka tidak ada yang mengaku keluarga dekat.

Kapal sudah mulai berbunyi menandakan kapal menuju Muara akan segera berangkat. "Tulang (panggilan anak kecil itu kepadaku) aku mau pulang supaya aku bisa sekolah besok," katanya. Aku melihat kesedihan di wajah anak kecil itu, aku pun memeluknya dan mengatakan supaya rajin belajar. Aku melambaikan tanganku ke anak kecil itu sambil berdoa, "Tuhan, pakailah anak itu menjadi berkat". Aku sangat mengasihi kepada anak kecil itu.

Pada hari ke-10, seorang perempuan separuh baya secara sembunyi-sembunyi mendekati nenek itu. Dia sangat terkejut ketika melihat aku tiba-tiba masuk ke kamar si nenek.

Mungkin pikirannya aku adalah pihak rumah sakit. Aku menerka bahwa perempuan separuh baya itu keluarganya yang ketakutan jika membicarakan biaya rumah sakit. Perempuan itu rupanya hendak membawa nenek pulang.

Dengan lembut aku meminta supaya perempuan itu mau menemaniku untuk membicarakan hal ini dengan pihak rumah sakit, apalagi rumah sakit itu adalah milik institusi gereja besar di Balige. Setelah pembicaraan yang amat panjang, perempuan itu bersedia membayar 25% dari keseluruhan biaya dan pihak rumah sakit milik yayasan gereja itupun menyetujuinya.

Sebelum mereka pulang, aku meminta supaya kami berdoa dulu. Setelah berdoa, aku mengantarkan mereka ke pintu rumah sakit dan nenek itu menanyakan,"Bagaimana dengan selimut dan bajumu Bapa Manurung?" Aku mengatakan, dengan ketulusan hatiku, bawalah dan buatlah itu sebagai kenangan yang indah. Nenek itu memelukku dan meneteskan air matanya. "Selamat jalan, nek."

Aku menghampiri ibuku yang sakitnya 70% sembuh. Dia mengatakan, "Apa kerjamu di Jakarta, pantaslah kamu anak perantau yang paling miskin, padahal sekolahmu jauh lebih tinggi dibandingkan anak-anak di kampung kita."
Aku menjawab dengan lembut, "Bukankah segala-galanya kutinggalkan demi merawat mama? Bukankah banyak orang lebih mementingkan uang dari merawat ibunya? Bukankah orang membangun kuburan yang mahal, padahal semasa hidupnya diabaikan? Coba, anak mama tidak peduli segalanya demi merawat mama."

Ibukupun memelukku dan menagis. Aku berkata dengan penuh kasih sayang, "Mama, mulai saat ini serahkanlah hidupmu sepenuhnya kepada Tuhan, sebab mama kemarin Haemoglobin (Hb) cuma 2, Sekarang sudah sehat. Terpujilah nama Tuhan."