TERANGKU YANG KECIL
Dikirim oleh : Awam K.

“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga” (Mat 5 : 16)

Pada suatu petang jauh sebelum Perang Dunia I, seorang pelancong di Eropa tiba di pinggiran suatu desa kecil yang terletak di suatu lembah antara Saxony dan Bohemia. Ketika ia mendekati kota, ia mendengar dentang lonceng gereja dan melihat orang-orang pergi ke gereja tua yang terletak di atas bukit menghadap ke lapangan kota. Ia memperhatikan bahwa mereka membawa sesuatu ditangan mereka, tetapi keremangan cahaya senja ia tidak dapat memastikan apa yang dibawa itu.

Tidak lama kemudian jendela-jendela gereja itu mulai bercahaya, mula-mula dengan dengan sinar yang lemah, tetapi kemudian dengan sinar yang makin terang. Sang pelancong mendengar suara organ dan dinyanyikannya lagu-lagu pujian lama dan kemudian cahaya dari jendela-jendela tersebut memudar ketika orang-orang keluar dari gereja. Pada waktu itulah ia tahu bahwa setiap orang membawa lampu minyak kecil.

Sang pelancong menuju hotel dimana ia mendapatkan tempat untuk menginap dan bertanya kepada pemilik hotel, “Mengapa semua orang itu membawa lampu ketika hendak mengikuti kebaktian malam ?”, Si Pemilik Hotel menjelaskan bahwa gereja tersebut dikenal di seluruh benua eropa sebagai  “Gereja Lampu Yang Bercahaya” Pada tahun 1550, seorang bangsawan setempat membangun gereja tersebut bagi orang-orang desa dan mempersembahkannya kepada penduduk setempat tetapi dengan satu syarat. Ia meminta agar setiap orang membawa lampunya sendiri karena gereja itu tidak diberi penerangan. Pada waktu orang pertama memasuki gereja, lampunya dinyalakan dengan nyala dari lampu Bapak Pendeta dan gilirannya kemudian menyulut lampu orang berikutnya demikian seterusnya sampai lampu yang terakhir menyala. Dengan demikian setiap orang yang tidak menghadiri kebaktian akan sangat dirindukan oleh yang hadir karena cahaya di dalam gereja menjadi agak redup.

Orang Kristen di manapun yang mengasingkan diri dari gereja dan jemaatnya menghalang-halangi mereka dalam memancarkan cahaya yang lebih terang. Ketidakhadiran sinarnya mengurangi kesaksiannya. Oleh karena itu Yesus bersabda, “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya didepan orang.” Kemudian apabila kita belum memahami sepenuhnya apa yang dimaksud dengan “Terang” kita, Ia menambahkan, “supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik.” Kehidupan Kristen kita yang konsisten menjadi terang kita. (Matius 5 : 13-16)

Advertisements