KETIKA MASA LALU MENGEJARMU, KIBASKAN!
Dikirim oleh : Idawati

"Akulah pintu ke domba-domba itu. Semua orang yang datang sebelum Aku, adalah pencuri dan perampok…" (Yohanes 10:7-8)

Semua berkumpul dekat api besar yang dibuat penduduk setempat. Hujan mulai turun dan hawa yang dingin serasa menusuk tulang, tetapi tidak ada yang mengeluh. Mereka baru saja selamat dari ancaman mati tenggelam di laut, jadi sedikit basah dan kedinginan tidak menjadi masalah bagi mereka. Mereka beruntung bisa selamat, juga beruntung penduduk asli pulau ini menyambut ramah kedatangan mereka.

Yulius — perwira dari pasukan Kaisar yang bertugas mengawal para tahanan — tidak bisa berhenti menarik napas panjang. Masih terbayang dibenaknya badai yang dengan ganas menerjang; kandasnya kapal mereka; dan perjuangan mereka untuk sampai ke pulau Malta ini. Tetapi yang paling membekas diingatannya adalah ketika Paulus, tahanan Yahudi itu, berkata dengan nada yakin kepada mereka semua saat masih di atas kapal, "Tidak akan ada yang binasa kecuali kapal ini! Tuhan mengatakannya kepadaku semalam. Jadi makanlah dulu supaya fisik kalian kuat kembali, dan berhentilah takut. Karena aku percaya semua akan baik-baik saja, seperti yang dikatakan Tuhan kepadaku."

Aneh memang, gumamnya seorang diri. Entah mengapa tetapi perkataan seorang tahanan bisa menguatkan hatinya. dan ia yakin hati mereka semua. Seolah-olah bukan manusia yang mengatakan semua itu … seolah-olah ada sesuatu. kuasa, wibawa, atau apalah namanya. sesuatu yang lain. Apakah itu yang namanya suara … ehm, Tuhan? Apakah Tuhan mau berbicara lewat tahanan ini? Ah! Apakah dirinya mau percaya pada Tuhan seorang tahanan Yahudi? Lagipula ia seorang Romawi. Tetapi memang betul mereka semua tidak ada yang terluka, persis seperti kata tahanan itu. Kebetulankah?

Lalu kebetulan jugakah namanya perasaan aneh yang mendesak hatinya untuk mencegah prajuritnya membunuh semua tawanan ketika kapal mereka kandas? Dalam keadaan mendesak seperti itu, sudah menjadi prosedur untuk membunuh semua tawanan agar mereka jangan melarikan diri. Tetapi ia malah mengambil resiko dengan membiarkan mereka semua hidup dan berenang ke pulau ini … Mengapa?

Karena — entah mengapa — aku tahu aku tidak bisa membiarkan tahanan Yahudi itu dibunuh.

Ia melirik Paulus yang sedang menghangatkan dirinya dekat api, seperti yang dilakukan semua orang. Tidak ada yang istimewa dari penampilannya. Yang membuatnya berbeda dengan tawanan lain hanyalah sikapnya yang tidak seperti seorang penjahat atau terdakwa. Ia juga selalu lebih yakin, lebih tenang, lebih bersemangat dibanding yang lain, bahkan di tengah-tengah badai sekalipun. Padahal ia akan diadili. Yulius mencoba mengingat-ingat perkara apa yang membuat orang ini diadili. Sepertinya ia berselisih pendapat tentang sesuatu dengan beberapa imam dan pemimpin Yahudi. Hmmm, apakah itu suatu masalah besar? Mengapa mereka begitu bersikeras untuk membunuh Paulus?

Api mulai mengecil. Sebelum Yulius sempat menambahkan berkas-berkas ranting ke dalam api, Paulus sudah terlebih dahulu mengulurkan tangannya. Saat itulah hal yang menakutkan terjadi.

Seekor ular beludak — mungkin karena tidak tahan dengan panasnya api — tiba-tiba saja melompat keluar dan secepat kilat menancapkan taringnya pada tangan Paulus! Kejadian itu terjadi begitu cepat sehingga Paulus atau siapapun tidak sempat berbuat apa-apa.

Yulius sudah bergerak mencabut pedangnya untuk menebas ular itu, ketika ia melihat sesuatu yang janggal. Tiba-tiba ia sadar bahwa si ular dan Paulus sedang saling mengunci pandang. Sepasang mata ular yang berkilat-kilat diterpa api itu menatap wajah Paulus, seakan-akan hendak menelannya sekaligus. Yulius merinding … ini seperti bukan sekedar gigitan biasa … seakan itu adalah sebuah pertempuran antara mereka berdua. Tetapi pertempuran apa? Gila, pikir Yulius. Ia mulai berimajinasi macam-macam!

Dalam sekejap, penduduk setempat telah berkerumun di sekeliling mereka. Yulius memperhatikan wajah mereka yang tegang. Mereka bergumam sesuatu sambil menunjuk-nunjuk Paulus. Makin lama gumaman mereka makin keras.

"Pembunuh! Ia pasti seorang pembunuh!"
"Ya, ia pasti seorang pembunuh! Ia selamat dari kapal karam, tetapi Dewi Keadilan masih hendak membunuhnya!"
"Ia pasti seorang pembunuh!"
"Pembunuh! PEMBUNUH!"

Paulus menatap mata ular beludak itu. Mata yang besar dan bening itu seperti menampilkan gambar-gambar kisah masa lalu. Ia seperti melihat sosok laki-laki … siapa itu? Oh, bukankah itu Stefanus? Orang-orang melemparinya dengan batu, sampai ia mati. Kemudian ia melihat sosok lain yang berdiri di atas jubah. Sosok itu nampak begitu dingin dan kejam. Ia mengangguk-anggukkan kepala sebagai persetujuan menyaksikan Stefanus mati dirajam batu.

Lalu banyak kilasan peristiwa yang lain. Paulus kembali melihat banyak laki-laki dan perempuan diseret keluar dari rumah mereka. Ia melihat mereka dianiaya dan dijebloskan ke penjara. Sosok pria tadi kembali ada di situ. Oh, tidak. Ia bukan hanya sekedar ada di situ. Ia adalah pemimpin operasi penganiayaan tersebut!

Kemudian Paulus sadar — sosok dingin dan kejam itu adalah dirinya. Mata ular beludak itu kembali berkilat, dan setengah bermimpi Paulus mendengar suara yang mendesis penuh penekanan di telinganya: "Paulus, kamu tidak lebih dari seorang PEMBUNUH!"

Pernahkan Anda menyesali masa lalu Anda?
Saya pernah. Sering bahkan. Terutama jika saya terbentur pada masalah dan saya berpikir: Ini semua tidak akan terjadi seandainya saja dulu saya tidak berbuat demikian! Atau sebaliknya: Jika dulu saya berbuat demikian, pasti hari ini hidup saya akan lebih menyenangkan! Pasti jadinya akan lain.

Ya, saya sering menyesali hal-hal yang tidak atau saya pikir seharusnya saya lakukan. Dalam kamus hidup saya ada cukup banyak kata "seandainya" "bagaimana jika" dan desahan penyesalan lainnya.

Saya cukup terhibur ketika tahu bahwa Rasul Paulus — rasul besar itu — juga memiliki banyak alasan untuk menyesali masa lalunya. Misalnya saja: ia dulu adalah seorang Farisi yang memiliki "hobi" menganiaya jemaat Tuhan. Ia bahkan melakukannya lebih giat dari rekannya yang lain. Ia menyeret murid Tuhan baik laki-laki maupun perempuan, menjebloskan mereka ke dalam penjara, membunuh beberapa dari mereka (termasuk Stefanus, martir pertama dalam sejarah Kitab Perjanjian Baru), dan dalam kesemuanya itu ia masih berpikir sedang melakukan kehendak Tuhan! Ia bahkan bertekad menghabisi juga jemaat Tuhan yang ada di Damsyik, dan mungkin rencananya itu akan terlaksana.

Seandainya Yesus Kristus Tuhan tidak menghadang dia di jalan. Seandainya cahaya kemuliaanNya tidak menerpanya sampai jatuh hari itu. Setelah itu hidup Paulus berubah 180 derajat.

Paulus yang dulu begitu membenci Jalan Tuhan dan pengikut-pengikutNya, malah berbalik menjadi seorang yang berkobar-kobar hatinya untuk mengabarkan Injil. Ia membongkar rahasia-rahasia di Kitab Suci, beradu pendapat dengan pemimpin Yahudi lainnya, dan berusaha keras menunjukkan kepada mereka siapa Yesus sebenarnya. Ia membuat bingung rekan-rekan sekerjanya yang terdahulu. (Kis 9:19b-22)

"Apa yang terjadi padamu, Paulus? Kamu sudah gila? Ataukah kamu sedang mabuk?" mungkin begitu komentar mereka.

Mungkin betul: Paulus sedang mabuk cinta. Ia jatuh cinta pada Sosok yang dulu begitu dibencinya. Tetapi bahkan kobaran cintanya dan semua yang telah dilakukannya itu seperti tidak cukup untuk meyakinkan saudara-saudara seiman di Yerusalem bahwa ia telah berubah. Bahwa ia bukan lagi seorang penganiaya jemaat Tuhan. Bahwa sekarang ia telah mengerti dan mengecap sendiri kasih karunia Tuhan dan kuasa yang membuat mereka bertahan tetap menjadi pengkut Yesus di tengah penganiayaan sekalipun.

"Setibanya di Yerusalem, Saulus mencoba menggabungkan diri kepada murid-murid, tetapi semuanya takut kepadanya, karena mereka tidak dapat percaya, bahwa ia juga seorang murid." (Kis 9:26)

Jadi, sekarang ia dibenci orang-orang Yahudi, mantan rekannya terdahulu, bahkan menjadi buron mereka untuk dibunuh. Di lain pihak ia juga ditolak oleh saudara-saudara seiman di Yerusalem. Tidak ada tempat yang mau menerimanya. Kawan-kawannya dahulu telah berubah menjadi lawan. Orang-orang yang seharusnya menjad teman-teman barunya menolak dia. Semua karena masa lalunya.

Saya bertanya-tanya: Bagaimana Paulus menghadapi semua itu? Apakah seperti saya, ia juga mengeluh dalam hati dan berkata, "Seandainya dulu aku bukan seorang pembunuh…." Apakah Paulus menghabiskan hari-harinya dengan berandai-andai sambil menyesali masa lalunya?

Seandainya aku tidak mengambil jurusan ini…
Seandainya aku tidak menikah dengannya…
Seandainya aku tidak memilih karir ini…
Seandainya kecelakaan itu tidak pernah terjadi…
Seandainya aku tidak menggugurkan kandunganku…
Seandainya orangtuaku lebih pengertian…
Seandainya aku menyayangi anakku dengan lebih baik…
Oh, seandainya waktu bisa diputar kembali!

Kita semua memiliki hal yang tidak ingin kita ungkit dari masa lalu kita, dari masalah kecil sampai besar. Mungkin karena itu mengingatkan kita pada kebodohan, kegagalan, kejahatan, luka hati, hal yang memalukan, atau segala sesuatu yang bersifat negatif yang membuat dahi kita mengernyit sebal dan hati terasa pedih tatkala mengingatnya. Terkadang kita berharap kita bisa menguburnya dalam tanah dan membiarkannya decompose, terurai dan lenyap terhisap ke dalam unsur tanah. Sayangnya, itu tidak akan pernah terjadi.

Masa lalu ibarat sampai non-organik; ia tidak akan pernah terurai dan terhisap oleh tanah. Bayangkan saja Paulus. Ketika akhirnya — berkat referensi dari Barabas — ia diterima di lingkungan teman-teman di Yerusalem, ketika akhirnya ia menemukan tempatnya untuk mengajar dan menyebarkan Injil … seekor ular beludak menancapkan taringnya… dan sekali lagi masa lalunya berhasil mengejarnya.

Di Pulau Malta itu, penduduk setempat menuduh Paulus sebagai seorang pembunuh karena meskipun selamat dari kapal karam, ia masih saja "tertimpa sial" dan digigit ular beludak. Ironisnya, Paulus memang seorang pembunuh, atau lebih tepatnya dikatakan mantan pembunuh. Parahnya lagi, ia bukan sembarang mantan pembunuh, tetapi spesial menganiaya orang-orang kudus pengikut Jalan Tuhan!

Ular beludak milik Paulus berkata: "Bagaimana mungkin seorang mantan pembunuh pengikut Jalan Tuhan mau bersaksi tentang Dia kepada dunia? Bercanda ya?" Apa kata ular beludak Anda?

Bagaimana mungkin seorang yang pernah bercerai mau melayani Tuhan dan menjadi panutan anak muda?
Bagaimana mungkin anak nakal seperti kamu berpikir hendak memulai hidup baru?
Bagaimana mungkin berandalan tengik macam kamu…. ?
Bagaimana mungkin seorang mantan pecandu narkoba…?
Bagaimana mungkin seorang mantan pelacur…?
Bagaimana mungkin seorang mantan pencuri…?
Bagaimana mungkin seorang yang berasal dari keluarga yang berantakan…?
Bagaimana mungkin seorang dengan masa lalu seperti KAMU mau melayani Tuhan?
Bercanda ya?

Bagaimana? Apa yang harus kita lakukan sekarang? Firman Tuhan memiliki semua jawabannya. Rasul Yohanes mencatat satu kalimat Yesus yang menjadi penghiburan luar biasa bagi kita.

"Akulah pintu ke domba-domba itu. Semua orang yang datang sebelum Aku, adalah pencuri dan perampok …."

"Semua yang datang sebelum Aku." Artinya, Tuhan sudah tahu sebelum Ia memanggil kita bahwa tidak ada masa lalu yang lepas dari penyesalan, terutama jika kita masih hidup di luar Kristus. Hidup kita sebelum itu adalah hidup yang tidak memiliki penjagaan ilahi. Hidup yang selalu dihantui oleh "pencuri dan perampok" — iblis sendiri. Tetapi di dalam Kristus, kita adalah "ciptaan baru" (2 Korintus 5:17), dan Tuhan berjanji bahwa Ia akan "memulihkan tahun-tahun yang hasilnya dimakan habis oleh belalang pindahan, belalang pelompat, belalang pelahap dan belalang pengerip." (Yoel 2:25)

Sehancur apapun hidup kita, Tuhan berjanji akan memulihkannya kembali. Dan bukan janji sembarang janji, karena Ia benar-benar SANGGUP !

Bercanda ya? Sama sekali tidak. Sejarah membuktikannya. Musa bersembunyi dari masa lalunya selama 40 tahun di padang gurun, tetapi akhirnya tangan Tuhan menemukan dan membimbingnya kembali menghadapi masa lalunya. Dari seorang mantan pangeran yang menjadi buronan karena membunuh, Musa akhirnya kembali ke Mesir, menghadapi Firaun, dan menjadi nabi besar yang melakukan tanda-tanda ajaib bersama Tuhan — yang belum pernah dan tidak pernah lagi dilakukan oleh nabi-nabi lainnya. (Ulangan 34:10-12)

Daud berzinah bahkan setelah ia mengecap kebaikan Tuhan dalam hidupnya. Ia berusaha mendustai Tuhan sekian waktu, tetapi pada akhirnya bertobat lewat teguran Nabi Natan. Apakah setelah itu hidupnya hancur dalam  penyesalan? Tidak. Ada konsekwensi yang harus ditanggungnya, salah satunya adalah matinya anak yang dikandung Betsyeba dari perzinahan itu. Tetapi Tuhan memulihkan hidup Daud dan Betsyeba dengan memberikan seorang anak yang lain, yang diberiNya nama "Yedida" – artinya "kesayangan Tuhan". Anak inilah yang kelak menjadi raja terbesar sepanjang sejarah Israel; ia juga yang merealisasikan impian ayahnya dengan mendirikan Bait Suci untuk Tuhan. (2 Sam 11-12, 1 Raj 8)

Petrus menyangkal Yesus tiga kali, padahal mulutnya sendiri berkata bahwa ia rela mati untukNya. Saat ayam berkokok, ia diam-diam menyingkir ke gang yang sunyi dan menangis penuh penyesalan di sana. Tetapi setelah Tuhan bangkit, Ia memulihkan hidup Petrus. Petrus menjadi salah satu rasul terbesar sepanjang masa, bahkan di akhir hidupnya ia sungguh-sungguh memenuhi perkataannya dulu: rela mati demi Tuhannya. Menurut catatan, Petrus mati sebagai martir dalam masa pemerintahan Kaisar Nero dengan disalib terbalik.

Paulus adalah mantan pembunuh pengikut-pengikut Yesus. Tetapi lihat Alkitab kita sekarang. Separuh lebih dari Alkitab Perjanjian Baru yang dibaca milyaran manusia di seluruh dunia adalah hasil tulisan tangan Paulus. Tangan yang dahulu berlumur darah orang-orang kudus, telah dicuci bersih dengan darah Anak Domba.

Tetapi, setidaknya kita tahu ada satu kisah yang berakhir tragis. Seorang murid Yesus memutuskan secara sepihak bahwa masa lalunya tidak mungkin diubah. Ia telah berkhianat, menjual Tuhannya seharga 30 keping perak, menyadari kejahatannya, menyesal luar biasa, dan — berbeda dengan Petrus dan teman-temannya yang lain — ia memilih untuk menggantung dirinya. Dan karena anugerah luar biasa dari Tuhan kepada manusia yang bernama "kehendak bebas" atau "free will", maka "terjadilah seperti imanmu". Tidak ada yang bisa dilakukan Tuhan terhadap Yudas Iskariot selain membiarkannya memperoleh apa yang telah diputuskannya: mati.

Ketahuilah bahwa iblis hanya mempunya satu misi dalam benaknya: menghancurkan hidup kita. Iblis tahu dia tidak punya masa depan yang cerah, tetapi di dalam Kristus kita punya… dan iblis sangat membenci hal itu. Karena itu sia-sia mengharapkan iblis berhenti mengorek atau mengutak-utik dosa dan pelanggaran kita, yang baru lewat satu jam, satu hari, ataupun bertahun-tahun sekalipun. Berharap demikian sama saja mengharapkan iblis memiliki belas kasih — dan itu adalah mustahil!

Lihat saja Paulus. Ular beludak itu tidak peduli pada kenyataan bahwa Paulus yang sekarang bukan lagi Paulus yang dulu. Ular beludak itu tidak peduli betapa banyak penganiayaan yang telah Paulus alami karena imannya kepada Tuhan. Ular beludak itu tidak peduli.. Ia tetap saja menancapkan taringnya dan mendesis: "Pembunuh! Pembunuh! Pembunuh!"

Perkataan bijak ini mungkin perlu dicatat: "Orang mati tidak mempunyai harapan. Yang mempunyai harapan hanyalah orang hidup. "Saat ular beracun dari masa lalu" mengungkit-ungkit dosa dan pelanggaran kita — entah yang kita buat sebelum atau sesudah kita mengenal Yesus, kita memiliki dua pilihan.

Kita bisa membiarkan taringnya terus menancap di tangan kita dan membunuh kita perlahan-lahan; atau seperti Paulus, kita bisa mengibaskannya dengan santai ke dalam api dan "sama sekali tidak menderita sesuatu." (Kis 28:5).
Kita bisa memilih sikap seperti Paulus yang tidak  bersembunyi atau menyangkali masa lalunya sebagai seorang mantan pembunuh, namun juga tidak membiarkan hal itu menghalanginya untuk mengejar panggilan surgawinya di dalam Kristus.

"Karena aku adalah yang paling hina dari semua rasul, sebab aku telah menganiaya Jemaat Tuhan. Tetapi karena kasih karunia Tuhan aku ada sebagaimana aku ada sekarang, dan kasih karunia yang dianugerahkan-Nya kepadaku tidak sia-sia." (1 Korintus 15:9-10)

"Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah dibelakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Tuhan dalam Kristus Yesus." (Filipi 3:13-14)

Paulus mengenal pengampunan Tuhan yang sempurna, yang dilukiskan oleh Daud: "sejauh timur dari barat, demikian dijauhkan-Nya dari pada kita pelanggaran kita." (Mazmur 103:12)

Oswald Chambers, dalam bukunya My Utmost for His Highest, mendorong kita dengan lembut:"Tinggalkan masa lalu yang rusak dan tidak dapat diubah di dalam tanganNya, dan melangkahlah keluar, ke masa depan yang tak terkalahkan bersama Dia. Biarlah masa lalu itu tidur dalam pelukan mesra Kristus…"

George Muller, penginjil dan pengarang dari Skotlandia, berkata:"If you once make a great mistake in life, do not allow it to cloud the rest of your life… When you think back overtime and wish you could do things differently, you may miss enjoying God’s goodness today…"

Saat ular beludak dari masa lalu mengejar kita, biarlah kita memiliki cukup kerendahan hati untuk berkata seperti Rasul Paulus berkata: "But by the grace of God, I am what I am…" dan sekali lagi "mengibaskannya ke dalam api."

Jadi, ingatlah ini: The next time the devil reminds you of your past, remind him of his future!

"Firman-Nya: ‘Janganlah ingat hal-hal yang dahulu, dan janganlah perhatikan hal-hal yang dari zaman purbakala! Lihat, Aku hendak membuat jalan di padang gurun dan sungai-sungai di padang belantara.’" (Yesaya 43:18-19)

Advertisements