WAKTU BAGI KELUARGA (Pengkhotbah 2:4-11; 22-26)
Dikirim oleh : Fransisca Adella Kipuw

Tak ada yang lebih baik bagi manusia dari pada makan dan minum dan bersenang-senang dalam jerih payahnya …inipun dari tangan Allah (Pengkhotbah 2:24)

Lo Scalzo, jurnalis foto Amerika ternama, telah bertugas di enam puluh negara dan meraih banyak penghargaan internasional. Kesibukan tugas membuatnya sering sekali meninggalkan istrinya. Suatu hari, saat meliput perang Irak, istrinya dilarikan ke Rumah Sakit karena keguguran untuk kedua kali. Scalzo merasa sangat bersalah. Sejak itu, ia bertekad mengubah prioritas hidupnya. Ia berupaya hadir  dalam keluarga, walaupun harus melewatkan banyak momen langka untuk meliput berita. Ia menulis: "Prestasiku sebagai jurnalis foto hebat akan segera dilupakan, tetapi prestasi sebagai ayah dan suami hebat akan dikenang selamanya oleh anak dan istriku."

Banyak orang sibuk melakukan pekerjaan besar. Segenap waktu dan tenaga tercurah untuk meraih kesuksesan. Menurut Pengkhotbah, semua itu memang bisa membuat orang menjadi besar: kaya dan ternama (ayat 9). Namun, ketika menoleh ke belakang, ia akan sadar bahwa semua prestasi yang telah dicapai sia-sia (ayat 11). Mengapa? Karena semuanya cepat sirna. Banyaknya waktu yang dihabiskan untuk mengejar sukses membuat kita kehilangan banyak waktu untuk menikmati hidup- untuk mensyukuri makanan dan minuman, serta menikmati kebersamaan dengan keluarga.

Banyak orang bekerja keras dari pagi hingga larut malam, sampai jarang bisa bercengkerama dengan keluarganya. Mereka berdalih, "Aku berjerih payah mencari uang demi keluarga." Benarkah itu? Apa artinya berkeluarga jika kita sulit ditemui? Tanpa kehadiran, kasih, dan perhatian, keluarga akan merana. Kalau sudah begitu, semua yang kita kumpulkan nantinya menjadi sia-sia! –JTI

INVESTASIKAN CUKUP WAKTU BAGI TUHAN DAN KELUARGA MAKA HIDUP ANDA TAK AKAN MENJADI SIA-SIA

Sumber : Renungan Harian

Advertisements