KEHILANGAN KESEMPATAN
(2 Samuel 18:33-19:8)
Dikirim oleh : Francisca Adella Kipuw

Oleh sebab itu, bangunlah, pergilah ke luar dan berbicaralah menenangkan hati orang-orangmu (2 Samuel 19:7)

Patrick Beckert adalah atlet speed skating asal Jerman di Olimpiade Musim Dingin, Februari 2010 di Vancouver, Kanada. Pada babak penyisihan, Beckert hanya berada di posisi ke-4, sehingga gagal masuk ke babak final. Ia begitu kecewa, sehingga memutuskan untuk pergi meninggalkan base camp-nya dan mematikan telepon selularnya. Tidak disangka, Enrico Fabis, atlet Italia pemegang dua medali emas, menarik diri dari pertandingan final karena cedera. Maka, terbukalah peluang untuk Beckert bertanding di babak final. Akan tetapi, karena tidak bisa dihubungi, Beckert pun akhirnya  kehilangan kesempatan berharga yang diimpi-impikannya itu.

Kesedihan mendalam juga dialami  Daud ketika mendengar kabar kematian Absalom, anaknya yang memberontak. Ia sungguh berduka, sehingga ia menarik diri dari tentaranya yang telah berjuang untuknya. Untunglah Yoab mengingatkan Daud tentang apa yang masih dimiliki dan layak disyukurinya (ayat 5, 6), sehingga Daud pun tidak terus larut dalam kesedihan dan terhindar dari kehilangan yang lebih besar lagi, yaitu orang-orang yang setia kepadanya (ayat 7, 8).

Dalam menjalani kehidupan ini, kita pun bisa saja mengalami kekecewaan; ketika harapan tidak terwujud, atau apa yang kita idam-idamkan hilang lenyap. Dalam situasi demikian, yang perlu selalu kita ingat adalah: jangan tenggelam dan berlarut-larut dengan kesedihan. Selain tidak akan menyelesaikan masalah, itu bisa mengundang kehilangan yang lain; mungkin kesempatan berharga, sahabat, atau bahkan kesehatan. Dan yang pasti, kita akan kehilangan rasa syukur atas apa yang ada. Sayang sekali, bukan? –AYA

KECEWA BERLARUT BISA MENGHANYUTKAN KESEMPATAN DI DEPAN MATA

Sumber : Renungan Harian

Advertisements