Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa! Roma 12:12

Shaloom,

Saat teduh di rumah saat ini memang tidak sebebas saat teduh ketika saya masih ada di Taipei. Saya harus banyak-banyak menyesuaikan diri dengan keadaan. Sedang asyik-asyiknya membaca alkitab, tiba-tiba orangtua memanggil. Baru saja hendak mulai berdoa, orangtua memanggil. Sedang menikmati pengajaran dari Roh Kudus, ketukan di
pintu terdengar sehingga saya harus buru-buru menyembunyikan semua "peralatan terlarang" di kolong ranjang. (Yah, pilihannya hanya itu atau RSJ). Mau puasa jangan harap bisa.

Saking kesalnya dengan situasi semacam itu, saya menggerutu kepada Tuhan. "Tuhan, sudah bagus ada anak-Mu yang berusaha baca alkitab, berusaha doa. Kok ya bukan diberi kemudahan malah dipersulit sih? Kau kan tahu berapa banyak anakMu yang punya kesempatan untuk doa dan baca alkitab selama yang mereka mau, tapi malah tidak menggunakannya?"

Tuhan cukup menjawab satu kalimat, "Berminat pergi ke Cina?"

Pertanyaan itu menyadarkan saya bahwa di belahan dunia ini ada begitu banyak anak Tuhan yang nyawanya terancam saat mereka mengaku dirinya pengikut Kristus. Ada begitu banyak anak Tuhan yang rela beribadah sembunyi-sembunyi di bawah tanah hanya demi bisa mendengar firman Tuhan. Ada begitu banyak anak Tuhan yang mempertaruhkan nyawanya demi bisa membaca alkitab, bahkan ketika sudah dipenjara dan kerja paksa, bahkan ketika alkitab itu tidak lengkap dan hanya berupa sobekan-sobekan sekali pun. Begitu banyak anak Tuhan di Cina yang menghapal ayat alkitab hanya karena mereka tidak tahu kapan mereka bisa membaca firman Tuhan lagi. Jadi untuk berjaga-jaga, mereka menghapalkannya sungguh-sungguh (dengar-dengar kita cukup menyebutkan mazmur pasal berapa yang kita inginkan dan mereka akan menyanyikannya untuk kita!).

Saya jadi teringat di sebuah pulau, orang-orang Kristen dengan penuh kerinduan hati membaca alkitab di gua tempat pembuangan mayat rekan mereka yang dibunuh karena iman kristen mereka. Penguasa pulau itu sengaja membuang semua alkitab ke dalam gua mayat tersebut, dengan perhitungan tidak ada yang mau masuk ke sana, atau kalau masih ada yang nekad malah bagus, biar mati karena penyakit. Dan hebatnya, Tuhan melindungi anak-anakNya sehingga tidak ada satupun yang terkena
penyakit meskipun setiap hari duduk bersama para mayat yang sudah membusuk sambil membaca alkitab.

Memang, menurut saya, anak-anak Tuhan yang memiliki kebebasan untuk membaca alkitab dan berdoa tapi tidak melakukannya adalah anak-anak Tuhan yang luar biasa tidak tahu terima kasih. Tetapi dibanding anak-anak Tuhan yang ada di Cina atau negara-negara komunis lainnya, atau
di negara yang menindas orang kristen, saya juga adalah orang yang super luar biasa tidak tahu terima kasih.

Nah, Tuhan bukan mengajarkan saya untuk "adu jelek nasib" atau "bersyukur di atas penderitaan orang lain"……. tetapi hari itu saya sadar bahwa dalam keadaan terjepit bagaimana pun, jika kita sungguh-sungguh rindu mengenal Tuhan, kita tidak akan pernah peduli hambatan apa yang ada di depan.

Kita akan menerjangnya demi memuaskan kerinduan jiwa kita. Dan saat kita bertekad melakukannya, Tuhan membuat sebuah jalan yang sering kita sebut dengan "Break Through".

Jadi, biarlah saat ini kolong ranjang menjadi tempat persembunyian "perlengkapan saat teduh" saya. Sama seperti mereka yang dipenjarakan oleh pemerintah Cina diberi kasih karunia untuk menghadapinya, saya pun mempunyai kasih karunia dari Tuhan untuk "taktik kolong ranjang" ini…… dan saya mengucap syukur.

GBU,
Idawati

Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Tuhan. Mazmur 42:2

Advertisements