Tuhan Yang Kejam (Matius 10:34)
Oleh : Sugeng Wiguno

Beberapa hari yang lalu saya mendapatkan sebuah berita yang cukup mengejutkan. Seorang rekan dikabarkan koma dan kemungkinan meninggal dunia. Hari itu juga pukul 10 malam kami pergi ke rumah orang tersebut dan benar, rupanya seluruh keluarganya sudah hadir di sana. Saya segera memimpin untuk ibadah pengurapan dan segera setelah ibadah selesai, rekan itupun meninggal dengan tenang dan dinyatakan secara klinis meninggal pukul 23:45.

Semua anaknya masih sangat muda, bahkan yang bungsu baru berusia beberapa tahun saja. Sang istri sempat histeris. Belum lagi bila kita mau melihat kehidupan almarhum yang penuh dengan lika-liku kehidupan yang jelas tidak semua mulus. Kita bisa dengan mudah bertanya, inikah hasil dari mengikuti kristus ?

Matius 10:34 berbunyi "Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang."

Melalui renungan yang saya baca hari ini, saya belajar bahwa damai sejahtera yang dibawa oleh Yesus seringkali tersembunyi dibalik kekejamanNya. Tetapi justru kekejaman Tuhan itulah yang membuat kita hancur dan akhirnya bisa melihat kebaikan dan kemurahanNya. Inilah yang Tuhan perlukan, atau lebih tepatnya kita perlukan supaya kita bisa sampai ke tempat dimana kita bisa melihat dengan jelas kemurahan Tuhan.

Apa yang membuat Tuhan kejam terhadap kita ? Yaitu kekerasan hati kita, rasio kita, dan semua usaha kita untuk bisa terbang dengan kekuatan sendiri. Kita selalu punya kecenderungan untuk hidup bahagia tanpa Tuhan. Dan dengan kejamnya kita selalu berusaha untuk membunuh Tuhan sehingga bekas pekerjaan tangan-Nya tidak nampak lagi dalam hidup kita. Dalam melayani Tuhan pun kita seringkali takluk pada hukum – hukum dunia. Banyak gembala sidang takluk bukan pada hukum Tuhan melainkan pada hukum ekonomi sehingga Tuhan kita pojokkan dan sisihkan dengan begitu kejamnya. Kita bersikukuh bahwa firman Tuhan tidak benar dalam beberapa hal yang tidak kita sukai, atau kita pandang sulit dipercaya, sehingga lambat laun Tuhan yang sejati tidak punya tempat lagi selain menjadi sebuah hiasan dalam sebuah hidup yang religius. Di saat semua "berhala" itu bertahta, entah itu pikiran, ideologi, filosofi, bahkan keyakinan theologis duduk dengan angkuhnya menggantikan Tuhan, dan kita sujud menyembah itu dengan keras kepalanya, maka satu – satunya yang mampu merobohkan itu semua hanyalah sebilah pedang.
Tuhan menampilkan sisi-Nya yang lain. Dia datang membawa pedang. Dan ya, kadangkala memang Tuhan menghajar sampai habis, mata menjadi buta, kaki menjadi lumpuh, mulut tak bisa lagi berbicara. Tangan kehilangan kekuatannya. Telinga berhenti memberikan kita masukan akan kebesaranNya. Dan jangan kita pernah
berpikir bahwa Tuhan tidak sanggup berbuat ini, Alkitab penuh dengan rincian apa yang sanggup Tuhan buat bagi semua musuhNya. Di saat Tuhan membuat tubuh hanya menjadi sebuah penjara bagi roh kita, inilah kesempatan emas bagi kita melihat rencana keselamatan-Nya.

Pesan Tuhan terakhir sebelum kepergian Almarhum adalah, "semuanya sudah terjamin". Pesan ini saya sampaikan berulang – ulang dan almarhum percaya. Beliau tidak lagi berusaha melawan kematian, dan akhirnya bisa beristirahat dengan tenang. Beliau melihat bahwa kasih setia Tuhan dinyatakan malam itu. Kematian bukan lagi menjadi sesuatu yang menakutkan sehingga beliau bisa pergi menyeberang dengan tenang. Pedang Tuhan berujung pada keselamatan dan penghiburan yang luar biasa. Inilah salah satu sukacita saya sebagai seorang hamba Tuhan selain membawa seseorang kepada keselamatan, yaitu melihat seorang anak Tuhan kembali kepada Bapa di surga dengan tenang dan damai.

Lebih lanjut, sebagai hamba – hamba Tuhan, kitapun diminta untuk datang membawa pedang. Berita Injil yang benar adalah membongkar dan meruntuhkan, memotong sampai ke akar dan menusuk sampai ke jiwa dan roh. Bila tidak demikian, bagaimana mungkin sesuatu yang baru bisa muncul ? "Yang lama sudah berlalu, yang baru sudah datang (2 Kor 5:17)" …. tidak akan terjadi bila yang lama tidak terlebih dulu "dibinasakan". Inilah pentingnya pedang itu, Firman Tuhan sendiri.

Bersyukurlah bila Tuhan berlaku kejam terhadap kita. Murka-Nya hanya sebentar, tetapi kasih setia-Nya sampai selama – lamanya.