Rela Melepaskan Keinginan
Dikirim oleh : Dindang Susi

Seorang ibu yang sangat mengasihi Tuhan mendapatkan berkat: ia hamil anaknya yang pertama. Keinginannya yang paling besar adalah memiliki anak perempuan. Ia jaga kehamilan pertama ini. Setelah bulan ke delapan ia mendapat indikasi dari dokter kebidanannya bahwa ia kemungkinan akan melahirkan bayi perempuan. Wah, betapa senangnya ibu ini! Pada sebuah pertemuan keluarga, ditengah-tengah saudaranya, seorang saudara yang menjadi dukun meramalkan begini, "Pasti anakmu perempuan!" Bagaimanakah reaksi ibu yang mengasihi Tuhan ini? Ia berdoa demikian, "Tuhan, buat agar bayi yang saya kandung ini laki-laki. Saya tidak mau saudara-saudara saya makin percaya kepada dukun. Demi kemuliaan namaMu, saya ingin melahirkan bayi laki-laki saja." Pada usia kehamilan sekitar 33 minggu, jenis kelamin sang bayi sebenarnya sudah terbentuk. Ibu ini tidak mempedulikan bagaimana caranya Tuhan mengubah jenis kelamin itu, yang ia imani, ia harus melahirkan bayi laki-laki, sekalipun tadinya ia sangat mendambakan bayi perempuan, agar orang-orang tidak percaya kepada ramalan dukun. Ia rela melepaskan keinginannya, asalkan nama Tuhan dipermuliakan.

Ada kesaksian yang indah dari hal-hal sederhana. Seseorang mengaku begini : "Kalau saya lagi kepingin sekali makan es krim, saya malah tidak mau makan es krim. Tetapi kalau keinginan saya itu biasa-biasa saja, boleh makan boleh tidak, saya tidak ragu lagi makan es krim. Kalau saya sangat ingin sekali nonton TV, saya memutuskan untuk tidak nonton. Kalau saya sangat ingin sekali piknik, saya justru tidak mau piknik." Ini adalah type orang yang belajar untuk menguasai diri, mengendalikan kehendaknya.

Corrie Ten Boom, seorang pejuang iman di negeri Belanda yang lolos dari keganasan Nazi pernah menasihatkan, "Jangan pegang sesuatu di tanganmu terlalu erat. Kalau Tuhan mau ambil hal itu, nanti menyakitkan." Tuhan Yesus mengajarkan kita tentang apa arti rela melepas segala-galanya. Ia saja yang punya segala-galanya, rela melepaskan segala-galanya. Ia rela menyangkal diriNya.

Sebelum liburan sekolah di Indonesia yang baru lalu, bertepatan dengan adanya SEA Games ke 19, seorang hamba Tuhan wanita sangat ingin sekali mengajak anak-anaknya piknik. Ia berdoa kepada Tuhan. Suatu hari seseorang anggota jemaat menelponnya, "Bu, saya tergerak untuk memberi uang Rp. 2 juta sore nanti." Hamba Tuhan ini senang, tentu saja. Pada pagi harinya seorang kenalan meminta tolong kepadanya. Teman ini bercerita bahwa ada seorang mahasiswa di Negeri Belanda yang perlu bantuan keuangan untuk pulang ke Indonesia. Ketika hamba Tuhan ini menerima uang sejumlah Rp. 2 juta pada sore harinya, Tuhan bertanya kepadanya, "Mana yang lebih penting, piknik atau menolong mahasiswa di Belanda itu?" Hamba Tuhan yang taat ini tahu, Tuhan meminta agar uang Rp.2 juta itu dikirimkan untuk mahasiswa yang kesulitan itu. Segera ia menukarkan uangnya dengan Gulden dan ditransfer ke rekening pemuda itu. "Jangan pegang sesuatu di tanganmu terlalu erat…" begitu nasihat Corrie Ten Boom.

Apakah yang ada di genggaman tangan anda yang begitu erat itu? Karier? Suami? Isteri? Pacar? Uang? Anak? Hobby? Gelar Sarjana? Tuhan sering menguji kita, mana yang lebih utama Tuhan atau sesuatu yang ada dalam genggaman tangan kita. Bagaimana reaksi kita kalau Ia meminta "Ishak"
kita, meminta buah hati kita, meminta kesayangan kita ? Apakah kita relakan? Kita adalah anak-anak tebusan. Apakah kita punya hak menggenggam erat sesuatu bagi diri kita sendiri? Kita telah mati terhadap dosa dan segala keinginannya yang membawa pada kebinasaan, apakah kita masih punya keinginan melirik dosa ?

"Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku. Barangsiapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya." Matius 10:38-89

Sumber : @Pondok Renungan 2001

Advertisements