Penyelamatan di Laut
– Author Unknown –
Dikirim oleh : Rusli Kurniawan

Beberapa tahun lalu, di sebuah desa nelayan kecil di Belanda, seorang pemuda mengajarkan kepada dunia, tentang hadiah yang diperoleh dari sikap tidak mementingkan diri sendiri. Karena seluruh desa bergerak dalam industri perikanan, sukarelawan untuk regu penyelamat dibutuhkan dalam keadaan darurat.

Suatu malam angin mengamuk, awan-awan bergerak cepat dan badai besar mengancam sebuah perahu penangkap ikan tenggelam di laut. Dalam kepanikan dan ketakutan, awak kapal mengirimkan sinyal bahaya, S.O.S.

Kapten kapal regu penyelamat membunyikan alarm dan penduduk desa berkumpul memandang ke pelabuhan. Ketika regu penyelamat meluncurkan perahu mereka dan berjuang menembus gelombang liar, penduduk desa menanti dengan gelisah ditepi pantai, dengan lentera di tangan untuk menerangi jalan kembali. Satu jam berikut, kapal penyelamat muncul kembali dan penduduk desa bersorak menyambut mereka.

Jatuh kelelahan di atas pasir, para sukarelawan itu melaporkan bahwa kapal penyelamat tidak sanggup menampung penumpang tambahan dan mereka meninggalkan seseorang di belakang. Meskipun hanya satu orang penumpang tapi jika dipaksakan pasti akan akan menenggelamkan kapal penyelamat dan semuanya akan meninggal. Sang kapten meminta satu regu sukarelawan lagi untuk pergi menyelamatkan orang yang tertinggal itu.

Hans, pemuda berumur 16 tahun maju kedepan. Ibunya memegang lengannya, memohon, "Jangan pergi. Ayahmu meninggal dalam kecelakaan kapal 10 tahun lalu dan kakakmu, Paul, telah hilang di lautan selama 3 minggu. Hans, kamu satu-satunya yang masih saya miliki."
Hans menjawab, "Ibu, saya harus pergi. Apa yang terjadi kalau semua orang berkata, ‘Saya tidak dapat pergi, biarkan orang lain yang melakukannya?’ Ibu, kali ini, saya harus melakukan tugas saya. Ketika ada panggilan untuk melayani, kita semua perlu mengambil giliran dan melakukan bagian kita." Hans mencium ibunya, bergabung dengan regu penyelamat dan menghilang dalam kegelapan malam.

Beberapa jam berlalu, bagi ibu Hans itu terasa selamanya. Akhirnya, kapal penyelamat kembali dengan Hans berdiri di ujung kapal. Dengan mengatupkan kedua belah telapak tangan, kapten berteriak, "Apakah kamu menemukan orang yang tertinggal itu?" Hampir-hampir tidak dapat menguasai diri, Hans berteriak balik dengan kegirangan, "Ya, kami menemukannya. Beritahu ibu saya itu adalah kakak saya,
Paul !"

‘Lalu aku mendengar suara Tuhan berkata: "Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?" Maka sahutku: "Ini aku, utuslah aku!"’ Yesaya 6:8

‘Karena siapa yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku dan karena Injil, ia akan menyelamatkannya.’ Markus 8:35