RANCANGAN TUHAN
Indra Sartono

" Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau. Ia membimbing aku ke air yang tenang. Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya." (Mazmur 23. 2 -3)

Mazmur di atas bukan sekedar ungkapan puitis yang kosong. Tetapi sungguh-sungguh berangkat dari kisah hidup yang riil. Adalah Daud yang menulis kannya, ketika ia mulai memasuki usia lanjut. Pengalaman Daud memang penuh warna; dari seorang anak penggembala ternak menjadi seorang raja. Tidak begitu saja Daud meraih sukses, tetapi melalui perjalanan hidup yang berat dan penuh liku-liku. Pernah suatu ketika ia harus terlunta-lunta karena dikejar oleh Raja Saul yang hendak membunuhnya. Ia juga pernah mengalami sakit dan pedihnya hati karena dikhianati anaknya sendiri, Absalom. Tetapi toh di dalam berbagai pengalaman pahitnya itu, dia tetap merasakan pimpinan dan pemeliharaan Tuhan. Dari kenyataan hidup demikian inilah Mazmur 23 tercipta.

Pernah suatu ketika, ada seorang fotografer yang harus menghadapi kenyataan pahit: kegagalan. Tabungannya selama bertahun-tahun terancam habis hanya oleh karena sebuah kecerobohannya dalam memotret. Ia shock. Tetapi dari shock itu ia lantas sadar, betapa selama ini ia telah meninggalkan Tuhan; Terlalu asyik dengan pekerjaannya, dan hanya memikirkan penghasilan. Dia lantas berubah. Perlahan tetapi pasti ia memulai kehidupannya yang baru. Memang persoalannya tidak lantas menjadi beres. Tetapi ia mulai bisa menemukan ketenangan dan sukacita.

Hidup kita pun bisa seperti itu. Ketika mungkin kegagalan dan berbagai peristiwa pahit menimpa; kita seakan habis akal dan harapan. Tidakkah kita dapat yakin, bahwa melalui kejadian dan kejadian itu Tuhan justru bekerja?

Jangan bertanya, "Kenapa aku mengalami semua ini", tetapi bertanyalah, "Apa maksud Tuhan semua ini". Tugas kita melakukan apa yang bisa kita lakukan sebaik-baiknya, selanjutnya biarlah Tuhan sendiri yang berkarya. Rancangan-Nya selalu indah pada waktunya.

Advertisements