KEMATIAN DAN KEBANGKITAN YESUS KRISTUS

Quran s.An Nisa 157 mengatakan : "dan karena ucapan mereka : "Sesungguhnya kami telah membunuh Al-Masih, Isa putera Maryam, Rasul Allah", padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa."

Nats Quran ini,- dipergunakan pada umumnya oleh umat Islam, untuk menolak kebenaran bahwa Yesus Kristus itu mati di kayu salib, bahwa tidak mungkin kepada seorang kekasih Allah yang menjadi rasul-Nya itu, Allah sendiri tidak memberikan perlindungan barang sedikitpun, malah membiarkan lsa Almasih (Yesus Kristus) itu mati diatas kayu salib. Apapun pula seperti -yang dikatakan orang-orang Kristen itu, bahwa Yesus itu adalah Anak Allah, tidak mungkin kalau Allah Bapa, tidak memberikan -perlindungan barang sedikitpun.

Masalah "Kematian Yesus dikayu salib" ini, per­lu ditinjau kembali, diselidiki secara jujur, baik dari apa yang ditulis dalam Quran itu, maupun apa yang diwartakan dalam Alkitab.

Maka akhirnya dapatlah ditarik suatu kesim­pulan sebagai berikut :

1. Menurut Quran tersebut, ternyatalah bahwa memang telah terjadi peristiwa “seseorang telah disalib dan mati tetapi tidak dipastikan siapa yang mati itu. Quran menyangkal bahwa yang mati itu adalah Isa Al­masih, atau Yesus Kristus. Ada yang mengatakan bah­wa yang disalib dan mati itu, adalah Yahuza atau Yu­das.

2. Menurut Quran itu juga dikatakan bahwa ada orang-­orang memang mengatakan dengan yakin, bahwa sesungguhnya mereka telah “membunuh Yesus" itu.

Sekarang kita harus mencari keterangan yang meyakinkan, siapakah sebenarnya yang disalib dan mati itu, Yesus atau orang lain. Untuk mendapatkan keterangan ini, kita haruslah mencari bukti suatu dokumentasi sejarah yang objektif. Hal ini adalah Alkitab, merupakan dokumentasi yang ter­buka yang dapat menjadi bahan informasi.

Cerita mengenai kematian Yesus di kayu salib itu, terdapat dalam empat Injil yang masing-masing ditulis oleh Matius, Markus, Lukas dan Yohanes. Kesaksian dari 4 penulis lnjil ini adalah merupakan kesaksian mata yang mereka lihat dan alami sendiri. Kalau kita berpijak kepada ketentuan hukum bahwa kesaksian 2 atau 3 orang yang melihat sendiri dalam sesuatu peristiwa, sudah cukup bahwa sesuatunya itu diteguhkan sebagal hal yang benar secara hukum. (Ulangan 17 : 6-7). Sebab itu kesaksian dari 4 penulis Injil ini,yang mereka masing-masing meli­hat sendiri tentang benarnya terjadi itu peristiwa Yesus disalib dan mati, adalah merupakan kesaksian yang benar dan syah serta meyakinkan kebenarannya dapat dipercaya, dibandingkan dengan kesaksian Al-Quran yang ditulis sesudah enam abad kemudian.

Kesaksian yang lain dapat juga ditambahkan, bahwa waktu Yesus dinyatakan mati oleh kepala pasukan, maka Yusuf Arimatea datang kepada Pontius Pilatus untuk meminta mayat tersebut untuk dikuburkan. Permintaan itu dikabulkan (Markus 15:41-46). Seandainya yang ditu­runkan dari Salib itu bukan Yesus, pastilah Yusuf Arimatea menolaknya atau memberikan keterangan keti­dakbenarannya itu.

Bukti lain lagi, adalah orang-orang Yahudi meminta kepada Pontius agar kuburan Yesus dijaga. Permintaan inipun dikabulkan. Seandainya yang dikuburkan itu bu­kan Yesus, tidaklah mungkin orang-orang Yahudi itu menjagai kuburan itu. Hal ini terjadi, karena Yesus pernah mengatakan, bahwa pada hari ketiga Ia akan bang­kit hidup kembali dari antara orang mati.

Bukti lain lagi, bahwa jika sekiranya yang disalib itu bukan Yesus, tidaklah mungkin Ia dapat mengeluarkan kata-kata yang penuh kasih sebagai aslinya tabiat Jesus, misainya : "Bapa ampunilah mereka sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” dan kalimat : "Sudah Ge­nap" (Tetelestai). Ini semua membuktikan bahwa yang mati tersalib itu tidaklah lain daripada Yesus Kristus sendiri.

Dengan demikian, maka sampailah saya kepada ke­simpulan yang meyakinkan bahwa "yang disalib dan mati", tidaklah diragukan lagi, ialah Yesus sendiri, bukan orang lain, bukan Yahuza, juga bukan Yudas. Karena ke­saksian mata dari 4 penulis Injil itu adalah cukup meyakinkan, syah dan benar.

Kebangkitan Yesus di antara orang mati

Mengenai peristiwa kemati­an dan kebangkitan Yesus, menurut Al Qur’an, Muhammad menerima wahyu ten­tang ucapan Yesus demikian : "Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali"". (QS. 19:33)

Teks aslinya. "Wassalamuala yauma walidtu wayauma amutu wa yauma ubasyu hayya”.
Dengan kata "ub’asyu hayya" (bangkit hidup kem­bali) adalah merupakan kehidupan yang real – nyata ­sesudah mengalami kematian (amutu) yang real ­nyata – pula.

Dengan nats ini dapatlah meyakinkan, bahwa Yesus memang telah mengalami kematian yang real ­nyata – meskipun kematianNya disangkal di kayu salib dan bangkit hidup kembali.

Yesus hidup kembali pada hari ketiga dari antara orang mati secara real – nyata – kebangkitan badani yang su­dah dipermuliakan (Filipi 3:21), yang dapat dilihat dan dijamah.

Kematian Jesus sama sekali tidak ada artinya, jika ti­dak berkelanjutan dengan Kebangkitan Hidup Kembali di antara orang mati.

Sekiranya Jesus yang disalibkan itu mati dan terus mati memang adalah akan merupakan satu pukulan yang hebat bagi iman Kristen, karena Tuhan-nya telah mati. Dan pastilah agama Kristen tidak akan dapat berdiri te­guh sampai saat ini, karena memang sudah tidak ada ha­rapan keselamatan para pengikutNya di alam sorgawi.

Kalau Yesus itu mati dan terus mati, dan seka­rangpun ada kuburanNya, untuk apa iman orang Kristen bertuhankan orang mati. Untuk apa orang Kristen "dibaptiskan atas nama orang mati. Untuk apa orang Kris­ten meminta syafaat kepada orang mati. Dan malah tidak masuk akal, kalau sekarang orang-orang Kristen, menja­dikan orang mati menjadi juruselamatnya, sedangkan – si mati sendiri tidak selamat, dia di dalam kubur.

Tetapi karena kasih Allah, bahwa Yesus disalibkan, bukan mati untuk mati, melainkan mati untuk hidup kembali, dan memang hidup selama-lamanya kekal hingga pada kesudahan alam.

Kebangkitan Yesus, hidup kembali diantara orang mati, bukanlah dalam khayalan, tetapi memang dalam ke­nyataan yang dapat dilihat dan disaksikan oleh banyak orang.

Kematian dan kebangkitan Jesus, adalah merupakan inti dari kesaksian iman Gereja sedunia. Kita sekarang memiliki iman yang penuh pengharapan. Kita mempu­nyai Juruselamat yang hidup selama-lamanya hingga pada kesudahan alam. Kita memiliki iman yang berdasar­kan kasih. Kita sudah menjadi waris penerima janji-janji Allah bersama-sama dengan Kristus. Menderita bersama, juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia. (Roma 8 17).

Karena itu yakinlah, bahwa sebagai pengikut Kristus kita akan dibangkitkan dari segala jenis kematian :

  • Kita akan dibangkitkan dari kematian bahagia rumah tangga.

  • Kita akan dibangkitkan dari kematian rezeki nafkah hi­dup dari hari ke hari.

  • Kita akan dibangkitkan dari kematian hati yang lemah dan rusuh.

  • Kita akan dibangkitkan dari kematian iman yang sudah suam.

  • Kita akan dibangkitkan dari kematian kasih.

  • Kita akan dibangkitkan dari kematian segala rupa hal ihwal yang mencekam jiwa, dari segala kekuatiran, dari segala penderitaan hidup, segala penderitaan sakit penyakit, dan lain-lain.

Lamanya Yesus berada dalam kubur

  1. "Anak Manusia akan tinggal di dalam rahim bumi tiga hari tiga malam", tidaklah  bermakna 3 x 24 jam. Karena dalam perhitungan Yahudi untuk menunjukkan siang dan malam itu selalu digunakan satu kata saja, yaitu "youm" atau "hari" da­lam bentuk jama’, bermakna sehari semalam.

  2. Dalam perhitungan Yahudi antara jam 6 sore hari ini sampai dengan jam 6 sore hari berikutnya ataupun di antara jam-jam itu, selalu dihisapkan menjadi 1 yaum, yang berarti sudah ter­hisap sehari semalam.

Yesus mati dan masuk kubur adalah sore hari Jumat (menje­lang malam). Sore Jumat sampai dengan jam 6 sore, sudah terhisap sehari semalam, yaitu dihitung mulai Kamis sore jam 6.

Hari Jumat dari jam 6 sore sampai dengan hari Sabtu sore jam 6, terhisap 1 hari yaitu sehari semalam.

Hari Sabtu sore jam 6 sampai dengan Minggu pagi, juga su­dah terhisap 1 hari, yaitu sehari semalam.

Dengan demikian, maka jelaslah bahwa apa yang dikatakan oleh Yesus tiga hari tiga malam itu terpenuhi.

Kalau perhitungan 3 hari 3 malam ini, kita perhitungkan da­lam cara modern sekarang pun juga terpenuhi.

Jumat jam 17.00 (menjelang malam itu) sampai dengan jam 24.00 tengah malam, bermakna telah memenuhi dua periode : hari siang dan malam.

Sabtu jam 00.00 (lepas tengah malam) sampai dengan Sabtu jam 24.00 (tengah malam) bermakna telah menemui dua periode : hari siang dan hari malam.

Minggu jam 00.00 (lepas tengah malam) sampai dengan Ming­gu jam 06.00 (pagi sudah terhisap siang) bermakna telah menemui dua periode pula yaitu: hari siang dan malam.

Dengan perhitungan inipun dapat kita ketahui dengan pasti bahwa mulai hari Jumat jam 17.00 (menjelang malam) sam­pai dengan hari Minggu jam 06.00 pagi (siang) bermakna te­lah mengalami pergantian waktu : 3 hari siang dan 3 malam.

Apakah Kebangkitan Benar-benar Terjadi?

Sebagaimana yang diindikasikan pada bahasan sebelumnya, penyaliban Yesus didokumentasikan dengan sangat baik dan diterima sebagai fakta. Dengan demikian pertanyaan pentingnya adalah : Apakah Yesus bangkit dari kematian, membuktikan pernyataan diriNya sebagai Tuhan yang berinkar­nasi, atau apakah terjadi hal lain pada jasadNya ­atau apakah Ia tidak pernah mati sama sekali ?

Kunci pada isu ini adalah arti penting lokal yang diberikan pada penanganan hukuman mati ini. Ucapan yang penuh kuasa dan makna serta banyak­nya mukjizat membuat rakyat meminta Yesus men­jadi raja. Ini mulai mengancam stabilitas politik lokal Roma dan kekuasaan religius para pemimpin Yahudi yang dikritik oleh Yesus secara terbuka. Kematian Yesus serta pencegahan muslihat harus dipastikan, karena Yesus telah menyatakan bahwa Ia akan mengalahkan kematian. Lebih jauh lagi, Ia telah membangkitkan orang-orang lain dari kema­tian. Akibatnya, diambil tindakan pencegahan seda­pat mungkin (Matius 27:62-66).

Alkitab mengimplikasikan bahwa penyebab kematian Yesus akibat darah dan air yang mengalir keluar dari luka tikaman tombak (para pakar medis mengkonfirmasi ini). Untuk mengamankan jasadNya, ditempatkan penjaga-penjaga Roma di luar kuburan. Penjaga-penjaga semacam itu terdiri dari 16 serdadu, dengan rotasi disiplin untuk tidur di waktu malam setiap empat jam empat serdadu akan ber­gantian berjaga. Para penjaga itu akan dijatuhi hukum­an penyaliban Roma bila mereka tidur di luar jam tugas mereka atau meninggalkan pos mereka. Gagas­an bahwa semua penjaga tertidur, dengan memper­timbangkan hukuman mati tadi, sangat tidak masuk akal. Untuk lebih memastikan keamanan, sebong­kah batu seberat dua ton digulingkan ke depan kuburan Yesus dengan meterai Pontius Pilatus di atasnya. Membuka meterai itu tanpa persetujuan para penjaga resmi Roma berarti disalib terbalik. Isu sentralnya — yang tak dapat dijelaskan oleh para pemimpin Yahudi, khususnya mengingat banyak­nya tindakan pencegahan yang dilakukan — adalah :

Apa yang terjadi dengan jenazah Yesus bila Ia tidak bangkit dari kematian sebagaimana yang diindikasikan dalam laporan-laporan Injil?

Penjelasan resminya adalah bahwa murid-murid men­curi jasad itu selagi para penjaga tertidur (dengan para imam melindungi para penjaga dari gubernur).

Gagasan ini perlu karena tak seorang pun dapat menghasilkan tubuh mati Yesus … yang akan menghentikan kisah kebangkitan untuk selamanya. Apa­kah pencurian jenazah Yesus sangat tidak mungkin ?

· Keenambelas penjaga pasti menghadapi resiko bukuman penyaliban apabila tertidur atau me­ninggalkan tugas. Pasti setidaknya ada seorang penjaga yang tidak tidur.

· Murid-murid dalam keadaan terguncang, takut dan kacau.balau setelah melihat Tuan mereka disalibkan. Apakah masuk akal untuk berpi­kir bahwa mereka segera menciptakan rencana cemerlang dan dengan sempurna melaksana­kannya pada hari istirahat Sabat ?

· Motif apa yang mungkin dimiliki murid-murid? Jika Yesus bukanlah Anak Allah seperti yang Ia nyatakan, mencuri jasadNya akan mencipta­kan suatu dusta tanpa manfaat apa pun — dan kematian, tanpa guna, bagi murid-murid.

Analisis atas Penjelasan-penjelasan Lain

Apakah Yesus benar-benar mati? Saat itu penyaliban dilakukan lebih rutin, dan lebih menguras fisik untuk periode yang lebih lama, daripada kursi lis­trik di masa kini. Mungkinkah para algojo sepro­fesional itu tidak mengenali kematian? Tikaman ter­akhir tombak ke daerah jantung adalah untuk memastikan bahwa seseorang sudah mati.

Terhadap seorang ancaman politik seperti Dia, mereka harus yakin. Jika Yesus tidak mati, apakah mungkin sese­orang yang setengah mati dapat menggerakkan se­bongkah batu seberat dua ton dari dalam kubur dan melarikan diri dari sepasukan penjaga Roma tanpa terlihat?

Apakah jasadnya dicuri pada waktu malam ? Dengan tidak adanya senter atau sensor infra merah pada masa itu, mungkinkah sekumpulan murid ketakutan yang membawa-bawa obor dapat melewati sepasukan penuh penjaga Roma, menggerakkan batu seberat dua ton dan tidak terlihat? Lebih jauh lagi, dua hari Sabat sangat membatasi gerakan. Dan sekali lagi -­untuk motif apa ?

Para Saksi Mata Kebenaran Mati untuk Menceritakan Kisah Itu

Kemartiran demi suatu kepercayaan tidaklah unik. Namun orang macam apa yang bersedia mati demi suatu dusta yang diketahuinya ? Seseorang yang gila ? Apakah semua murid mau menghadapi kesulitan dan kematian demi suatu dusta yang mereka ketahui ? Murid-murid bersama Yesus terus-menerus selama tiga tahun. Mereka pasti mengetahui kebenaran kebangkitan. Berdusta tak akan berguna karena pela­yanan Yesus nanti akan diperdebatkan. Narnun catat­an-catatan dan laporan-laporan sejarah tentang para murid mengindikasikan bahwa mereka semua dibunuh secara kejam karena kepercayaan mereka (kecuali Yohanes). Yakobus dirajam, Petrus disalibkan terbalik, Paulus dipenggal, Tadeus dibunuh dengan panah, Matius dan Yakobus (anak Zebedeus) dibu­nuh dengan pedang, dan yang lainnya disalibkan

Apakah Anda tahu bahwa Rasul Yohanes ketika di Roma ia pernah di goreng hidup2 di dalam minyak mendidih. Apakah ia takut menghadapi ini semua? Tidak! Ternyata tidak satupun dari para Rasul yang memilih untuk hidup senang dan tentram dengan bersedia mengingkari dan tidak mengakui Tuhan Yesus. Berapa lama orang bisa kuat dan bisa bertahan menghadapi siksaan badan yang sedemikian keras dan kejamnya tanpa harus menyangkal Tuhan? Beda dengan manusia jaman sekarang, jangankan di siksa, karena ketakukan kehilangan jabatan, atau kursi yg basah saja, mereka sudah bersedia untuk menyangkal bahkan balik menghujat orang yg ia panut dan puja sebelumnya.

Sejarah tradisi gereja banyak sekali memberikan informasi mengenai kehidupannya sampai dengan bagaimana wafatnya para Rasul. Satu penulis sejarah yg bisa dipertanggung jawabkan tulisannya berdasarkan bukti2 nyata ialah Eusebius. Ia menulis buku mengenai cara meninggalnya Para rasul di th 325 dgn judul: "Rasul dan murid dari Juruselamat telah menyebarkan dan mengkotbahkan Injil ke seluruh dunia". Tulisan dari Eusebius telah ditelusuri dan diselidiki ulang oleh penulis sejarah gereja kondang Mr.Schumacher untuk membuktikan akan kebenaran dari tulisan tsb.

a. Matius meninggal dunia, karena disiksa dan dibunuh dengan pedang diEtiopia.

b. Markus meninggal dunia di Alexandria (Mesir), setelah badannya di seret hidup2 dengan kuda melalui jalan2 yg penuh batu sampai ia menemukan ajalnya.

c. Lukas mati digantung di Yunani, setelah ia berkhotbah disana kepada orang2 yg belum mengenal Tuhan

d. Yohanes direbus atau lebih tepatnya digoreng didalam bak minyak mendidih di Roma, tetapi karena Tuhan masih ingin memakai Yohanes lebih jauh, maka keajaiban terjadi sehingga walaupun ia telah digoreng hidup2 ia bisa hidup terus. Tetapi akhirnya ia dibuang dan diasingkan ke pulau Patmos untuk kerja paksa ditambang batubara disana. Pada saat ia berada disana, ia mendapatkan wahyu sehingga ia bisa menulis Kitab Wahyu. Kemudian ia dibebaskan dan akhirnya kembali dan menjadi Uskup di Edessa (Turki). Ia dalah satu2nya Rasul yg bisa mencapai usia lanjut dan bisa meninggal dunia dengan tenang.

e. Petrus telah di salib dengan kepala dibawah. Kayu salib untuk Petrus dipasangnya berbeda, ialah secara huruf X, karena itulah permohonan yang ia ajukan sebelum ia disalib, dimana ia memohon untuk disalib dengan cara demikian. Ia merasa tidak layak untuk mati dan disalib seperti Tuhan Yesus.

f. Yakobus saudara tiri dari Tuhan Yesus dan pemimpin gereja di Yerusalem, di lempar kebawah dari puncak bubungan Bait Allah, ditempat yg sama dimana si setan dahulu membawa Tuhan Yesus untuk digoda. Ia meninggal dunia setelah dilempar dari tempat tinggi tsb.

g. Yakobus anak Zebedeus adalah seorang nelayan dan ia adalah murid pertama yang dipanggil untuk ikut Tuhan Yesus, ia dipenggal kepalanya di Yerusalem. Pada saat2 ia disiksapun, ia tidak pernah menyangkal Tuhan Yesus, bahkan ia berusaha untuk berkhotbah terus, bukan hanya kepada para tawanan lainnya saja, bahkan kepada orang yg menghukum dan menyiksa dia dgnkejamnya. Sehingga akhirnya orang Rumawi yg menjadi penjaga dan penyiksa dia, bisa turut bertobat. Penjaga Rumawi itu mendampingi Yakobus pada saat ia dihukum penggal, bukannya sekedar hanya untuk turut menyaksikannya saja, melainkan juga untuk turut dihukum dan dipenggal bersama dengan Yakobus. Pada saat ia mau menjalani hukuman mati, ia berlutut bersama disamping Yakobus, sambil berdoa, itu adalah doanya yang terakhir, sebelum ia mati dipenggal bersama Yakobus sebagai orang Kristen.

h. Bartolomeus yang lebih dikenal sebagai Natanael ia menjadi misionaris di Asia, antara lain ia memberikan kesaksian di Turki. Ia meninggal dunia di Armenia setelah ia mendapat hukuman pukulan cambuk yang sedemikian kejamnya sehingga semua kulitnya menjadi hancur terlepas kebeset.

i.. Andreas juga disalib seperti Petrus dgn cara X di Patras, Yunani. Sebelumnya ia meninggal ia disiksa dgn hukum cambuk oleh tujuh tentara dan di ikat di salib dgn cara demikian mereka bisa memperpanjang masa sakit dan masa siksaannya. Seorang pengikut Andreas yang turut menyaksikan hukuman Andreas menceritakan perkataan yang telah diucapkan oleh Andreas sebelum ia meninggal dunia: "Ternyata keinginan dan cita2 saya bisa terkabul dimana saya bisa turut merasakan "happy hours" dgn di siksa dan disalib seperti Tuhan Yesus." Bahkan pada saat ia disiksa pun tiada henti2nya ia berkhotbah terus, ia berkotbah terus dua hari sebelum ajalnya tiba. Berkotbah sambil dihukum cambuk.

j. Rasul Thomas mati ditusuk oleh tombak di India.

k. Yudas saudaranya dari Tuhan Yesus dihukum mati dgn panah, karena ia tidak bersedia untuk mengingkari Tuhan Yesus

l. Matias, rasul pengganti dari Yudas Iscariot mati dihukum rajam dan akhirnya dipenggal kepalanya.

m. Barnabas salah satu dari 70 rasul, juga yang telah menulis Surat Barnabas dan mengabarkan Injil di Italy maupun di Cyprus, ia mati dihukum rajam di Salonica.

n. Rasul Paulus disiksa dengan sangat kejam dan akhirnya dipenggal kepalanya oleh Kaiser Nero di Roma pada th 67. Rasul Paulus adalah rasul yang paling lama mengalami masa siksaan di penjara. Kebanyakan surat2 dari Rasul Paulus dibuat dan dikirim dari pernjara.

Disamping kisah para rasul yang ditulis oleh ahli sejarah Eusebius, ia juga menceritakan tentang seorang penginjil yang matanya dibakar sampai buta dengan catatan bahwa kalau ia buta, maka ia tidak akan bisa membaca Alkitab lagi dengan mana ia tidak akan bisa mengabarkan Injil lagi. Tetapi kenyataannya ia tetap mengambarkan Injil berdasarkan ayat2 yg telah dipelajari dan di ingat sebelumnya.

Para Rasul jaman dahulu sedemikian kuat imannya dan sedemikian mengasihi Tuhan Yesus sehingga mereka bersedia membayar kepercayaannya ini dgn pengorbanan dan darah mereka. Apakah umat Kristen sekarang ini juga bersedia melakukan yang serupa seperti para Rasul jaman dahulu?

Kesaksian Katakombe

Di bawah kota Roma membentang gua-gua berukir sepanjang 900 mil di mana lebih dari 7 juta orang Kristen, banyak yang dihukum mati karena keper­cayaan mereka, dikuburkan. Yang lain-lainnya ber­sembunyi dan beribadah di gua-gua ini selama ber­langsungnya penganiayaan hebat atas orang-orang Kristen. Inskripsi-inskripsi yang paling awal diketa­hul di dinding-dinding bertanggal tahun 70 M. Bebe­rapa penghuni awalnya mungkin berkomunikasi secara langsung dengan orang-orang yang telah meli­hat Yesus. Sejak sekitar tahun 400 M. Katakombe dikuburkan dan "terlupakan" selama lebih dari 1000 tahun. Pada tahun 1578 Katakombe ditemu­kan kemball secara tidak sengaja. Kini Katakombe dapat dilihat sebagal saksi bisu akan banyak orang yang lebih memilih mati daripada mengutuk Yesus atau bersujud pada patung seorang kaisar. Martir-­martir Kristen sangat berbeda darl martir-martir dunia lainnya dalam hal bahwa fakta-fakta sejarah merupakan landasan kepercayaan mereka — fakta­-fakta yang dapat diverifikasi pada masanya, bukan sekedar pemikiran-pemikiran.

Saksi-saksi Lawan Berubah Menjadi Kristen

Paulus, seorang pemimpin penganiayaan terhadap orang-orang Kristen, melepaskan kekayaan, kekua­saan, dan kenyamanan setelah mellhat Kristus yang sudah bangkit, kemudian menulis sebagian besar Perjanjin Baru. Dua anggota Sanhedrin (yang tidak hadir ketika Sanhedrin menjatuhkan hukuman mati atas Yesus) secara diam-diam menjadi murid Yesus. Saudara-saudara kandung Yesus yang tidak percaya, Yakobus dan Yudas, belakangan menjadi percaya ­setelah kebangkitan.

Persidangan-persidangan hukum menganggap saksi-­saksi lawan sangat penting karena mereka cenderung mempersoalkan fakta-fakta yang mendukung lawan mereka. Alkitab menyatakan dengan jelas bahwa saksi-saksi lawan berubah menjadi orang-orang yang percaya kepada Yesus.

Makna Salib Kristus bagi kita.

Rasul Petrus menuliskan ilhamnya sebagai berikut "Sebab adalah kasih karunia, jika soorang karena sadar akan kehendak Allah menanggung pende­ritaan yang tidak harus ia tanggung. Sebab dapatkah disebut pujian, jika kamu menderita pukul karena kamu berbuat dosa? Tetapi jika kamu berbuat baik dan karena itu kamu harus menderita, maka itu ada­lah kasih karunia Allah. Sebab untuk itulah kamu dipanggil, karena Kristuspun telah menderita untuk kamu, dan telah meninggalkan teladan bagimu, su­paya kamu mengikuti jejaknya. Ia tidak berbuat dosa, dan tidak ada tipu dalam mulutnya. Ketika Ia dicaci-maki. Ia tidak membalas dengan mencaci ­maki; ketika ia menderita. Ia tidak mengancam, teta­pi la menyerahkan kepada Dia yang menghakimi de­ngan adil. Ia sendiri telah memikul dosa kita didalam tubuh-Nya di kayu salib, supaya kita yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran. Oleh bilur-bi­lur-Nya kamu telah sembuh. Sebab dahulu kamu se­sat seperti domba, tetapi sekarang kamu telah kem­bali kepada gembila pemelihara jiwamu." (1 Petrus 2:12-25).

Salib yang dihubungkan dengan pribadi Jesus, ada­lah merupakan puncak kesengsaraanNya. Mati di kayu salib, bukanlah hal yang diidam-­idamkan, meskipun hal itu sesuai dengan takdir rencana Allah. Karena masalah sengsara Yesus itu sudah dinu­buatkan dalam Kitab Nabi Yesaya 53:1-12. Dan Jesus sendiri telah menginsyafi bahwa nubuat itu akan terge­napi di atas pribadinya sebagai Hamba Allah yang dimak­sudkan oleh nubuatan itu.

ltulah sebabnya Yesus mengatakan di saat menghadapi saat sengsara ini, kepada seseorang yang me­nyertai Jesus yang bersikap untuk mengadakan perla­wanan, la berkata : "Masukkan pedang itu kembali ke dalam sarungnya, sebab barang siapa menggunakan pedang akan binasa oleh pedang. Atau kau sangka bahwa Aku tidak dapat berseru kepada Bapaku supaya Ia segera mengirim lebih dari dua be­las pasukan malaikat membantu Aku ? Jika begitu, bagaimana akan digenapi yang tertulis dalam Kitab Suci, yang mengatakan bahwa harus terjadi demiki­an ?" (Matius 26:52-54).

Yesus dihukum salib oleh penguasa bukanlah disebabkan Dia melakukan sesuatu Keja­hatan berbuat dosa melanggar Hukum Taurat. Dia dihukum oleh penguasa, karena pengajaranNya menyelamatkan umat manusia dari kuasa dosa, juga karena Ia menyungguhkan diri-Nya sebagai Anak Allah, Mesias, Tuhan dan Juruselamat.

Dari keterangan di atas maka dapatlah disimpulkan bahwa lambang salib, adalah mengingatkan kepada kita setiap penganut Kristen, bahwa Yesus menderita dan te­lah menjadi korban mati sengsara di kayu salib, karena da’wah-Nya untuk menyelamatkan kita semua dari pe­nguasa dosa, agar kita mendapatkan hak hidup yang ke­kal di alam sorgawi.

Advertisements