"Terima Kasih, Sahabat"
Dikirim oleh : Rusli Kurniawan

Satu hari, ketika saya baru masuk di SMA, seusai sekolah, saya melihat seorang anak yang sekelas dengan saya sedang berjalan pulang. Namanya Kyle. Kelihatannya dia membawa pulang semua buku-bukunya. Saya berpikir, "Kenapa ada orang yang membawa pulang semua buku di hari Jumat? Dia pasti seorang kutu buku." Saya sudah punya rencana akhir minggu (pesta dan main sepakbola dengan teman-teman besok sore), jadi saya berlalu pergi.

Ketika berjalan, saya melihat segerombolan anak-anak berlari ke arahnya. Mereka menabraknya hingga ia terjatuh dan semua buku yang dipegangnya terlepas jatuh ke tanah. Kacamatanya terpental, dan saya melihat kaca mata itu jatuh ke rerumputan beberapa meter darinya. Dia mengangkat kepala dan saya melihat kesedihan yang sangat di matanya.

Hati saya trenyuh melihatnya. Jadi, saya berjongkok di dekatnya ketika dia sedang merangkak berputar-putar untuk mencari kacamatanya, dan saya melihat air mata di matanya. Ketika saya menyerahkan kaca matanya, ia berkata "Orang-orang itu berengsek. Mereka tidak seharusnya hidup." Dia memandang saya dan berkata, "Terima kasih !" Ada senyum besar di wajahnya. Senyum berterima kasih. Saya menolong memunguti buku-bukunya, dan bertanya dimana dia tinggal.

Ternyata dia tinggal di dekat rumah saya, jadi saya bertanya kenapa saya tidak pernah melihat dia sebelumnya. Dia berkata bahwa dia sebelumnya bersekolah secara privat. Kami mengobrol sepanjang perjalanan pulang, dan saya membantu membawakan beberapa buku-bukunya. Saya bertanya padanya kalau-kalau dia mau ikut bermain sepakbola bersama teman-teman saya. Dia berkata ya. Kami menghabiskan akhir minggu bersama-sama dan semakin saya mengenal Kyle, saya semakin menyukainya, demikian juga teman-teman saya.

Senin pagi tiba, dan saya melihat Kyle lagi dengan setumpuk buku. Saya menghentikannya dan berkata, "Wah, kamu akan memiliki tangan berotot besar dengan membawa setumpuk buku setiap hari." Dia cuma tertawa dan menyerahkan sebagian buku-buku itu kepada saya.

Selama empat tahun berikut, Kyle dan saya menjadi sahabat baik. Kita mulai berpikir untuk kuliah. Kyle memutuskan untuk pergi ke Georgetown, dan saya pergi ke Duke. Saya tahu bahwa kita tetap bersahabat, jarak yang jauh tidak menjadi persoalan.

Saya mengejeknya sepanjang waktu tentang menjadi kutu buku. Dia harus menyiapkan pidato untuk wisuda. Saya senang sekali bukan saya yang harus berpidato. Hari wisuda, saya melihat Kyle. Dia adalah satu dari orang-orang yang menemukan jati dirinya selama sekolah. Dia kelihatan menarik dengan kacamatanya. Kadang-kadang saya iri padanya. Dia berkencan lebih banyak dari saya dan semua wanita suka padanya.

Saya dapat melihat bahwa dia gugup sekali untuk berpidato. Jadi, saya menepuk bahunya dan berkata,"Hei, kamu akan kelihatan hebat !" Dia melihat saya dan tersenyum. "Terima kasih," katanya.

Dia memulai pidatonya. "Wisuda adalah hari untuk berterima kasih untuk mereka yang telah menolongmu melalui tahun-tahun yang berat ini. Orang tuamu, gurumu, teman sebangkumu, mungkin pelatih kita …. tapi terutama kepada para sahabatmu. Saya ada disini untuk memberitahu kalian semua bahwa menjadi seorang sahabat adalah pemberian terbaik yang dapat engkau berikan. Saya akan memberitahu kalian sebuah cerita."

Saya melihat teman saya dengan tidak percaya ketika dia mulai bercerita tentang hari pertama pertemuan kami. Dia berencana untuk bunuh diri akhir minggu itu. Dia berbicara bagaimana dia telah mengosongkan lemarinya sehingga tidak merepotkan ibunya di kemudian hari dan membawa semua barang-barang nya pulang. Dia melihat saya dan tersenyum kecil.

"Bersyukur, saya selamat. Sahabat saya menyelamatkan saya dari tindakan bodoh yang tidak terkatakan." Saya mendengar seruan halus diantara pada hadirin ketika pemuda tampan dan populer ini dengan berani menceritakan saat-saat lemah-nya. Saya melihat ibu dan ayahnya memandangi saya dan tersenyum bersyukur. Sampai saat itu saya baru menyadari hal itu punya arti yang sangat dalam.

Jangan meremehkan dampak dari tindakanmu. Dengan satu pertolongan kecil engkau dapat mengubah hidup seseorang. Menjadi lebih baik atau lebih buruk. Allah menaruh kita dalam hidup setiap orang yang kita jumpai untuk saling mempengaruhi satu dengan lainnya. Jadi, pengaruhilah setiap orang yang kita jumpai secara positif !

‘Hendaklah kamu saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat’ Roma 12:10

‘Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.’ Matius 5:16

— Author Unknown —