Dengan Pandangan Kasih

Saat truk dari jasa pengiriman paket bergerak memasuki halama dengan suara berderak, saya menghembuskan napas lega dan gembira karena hadiah Natal terakhir yang saya pesan akhirnya datang juga. Saya telah selesai berbelanja sebulan lebih cepat !!!

"Hai," seorang lelaki muda menyodorkan sebuah paket. Saat menerimanya, saya melihat kain berwarna coklat lusuh tersembul dari lubang kecil yang terdapat pada paket itu.

Saat itu saya berpikir, "Aku tidak suka warna baju yang dulu itu; kuharap kedua boneka yang ku pesan ini tidak sama. Saya harap paling tidak salah satu dari boneka ini memiliki warna yang cerah."

Saya merobek bungkusnya dan mnegeluarkan dua boneka terjelek yang pernah saya lihat. Ya , begitulah jika memesan barang lewat penawaran dari majalah, saya memaki diri sendiri dan mengangkat kedua boneka itu agar dapat terlihat lebih jelas.

Boneka-boneka itu tampak terlihat baru diangkat dari seseorang dari laut. Mata boneka yang satu menatap saya, sementara yang lain menatap kosong. Mulut boneka yang satu terlihat kecil dan berkerut, sementara yang satunya lagi besar dan menyeringai, yang satu berpipi cerah, sedangkan yang satunya lagi pucat; yang satunya bertangan bagus, sedangkan satunya.. Oh, ini benar-benar penipuan! Saya melemparkannya ke dalam lemari. Saya tidak akan memberikannya kepada Dawn dan Tammy saat Natal. Saya hanya akan malu saat melihat wajah mereka yang kecewa.

Karena kesibukan menjelang Hari Pengucapan Syukur yang disemarakan oleh kue-kue dan diliputi banyak kegembiraan, dengan cepat saya sudah melupakan dua boneka yang disingkirkan ke dalam lemari.

Anak-anak perempuan saya telah pulang dari sekolah untuk memulai liburan dan langsung sibuk bermain di akamr. Saat itu mereka ingin bermain "peragawati-peragawatian". Merekapun bergegas menuju lemari saya untuk mencari baju "orang dewasa".

Saya sedang mencuci piring bekas sarapan takala tiba-tiba terdengar jeritan gembira kedua gadis itu.
"Bu, Ibu, "teriak Dawn, "Benda ini cantik ! bolehkah saya memilikinya ?"
Saya dengar derap kaki mereka menyusuri lorong sehingga sayapun menoleh. Wajah dua gadis kecil saya tampak memancarkan kebahagiaan. Dengan lembut mereka menimang-nimang boneka-boneka buruk itu.
"Apakah boneka-boneka ini untuk kami ?" tanya Tammy dengan bersemangat, matanya berbinar-binar.
"Oh, saya harap begitu !" Dawn menirukan. "Saya akan menamai boneka saya Cathy,"kata Tammy, dan dengan bangga ia memeluk boneka itu lebih erat.
"dan saya akan menamainya Candy," Dawn mengumumkan dengan tegas.
"Oh, ayolah Bu, katakan bahwa boneka-boneka ini untuk kami."
"Ya, anak-anak, memang itu untuk kalian. Ibu gembira kalian menyukainya," sahut saya tak percaya.
"Ya, kami menyukainya.. Benar-benar menyukainya!" mereka menyambut dengan gembira, lalu memeluk saya bergantian.
"Terima kasih, Bu," teriak mereka sambil berlari untuk bermain dengan teman-teman mereka yang baru itu.

Saat suara mereka yang ceria menghilang, pikiran saya kembali melayang pada kedua boneka itu. Saya teringat bahwa saya melihat banyak kekurangan pada boneka tersebut. Boneka itu begitu jelek, dan rambutnya begitu kusut. Namun Dawn dan Tammy sama sekali tidak menghiraukan keburukannya, karena bukan itu yang mereka cari. Mereka menilai boneka-boneka itu dengan cara pandang yang berbeda. Boneka-boneka itu buruk menurut saya, tetapi sempurna menurut mereka; tidak bernilai menurut saya tetapi patut dihargai menurut mereka.
Betapa seringnya kita memperhatikan keburukan diri sendiri maupun orang lain-hidung yang terlalu besar, rambut yang susah diatur dan kusam, atau kurangnya kecerdasan dan talenta. Betapa sering kita membesar-besarkan kekurangan dan menutupi kelebihan. Namun dihadapan Allah, kita bagaikan boneka-boneka yang buruk itu ditangan anak saya. cantik dan sempura.

Disadur dari : Embun Bagi Jiwa oleh Marcia Krugh Leaser

Advertisements